Cerita Cara Orang Sumba Bersepakat Dengan Alam
Tiga Umbu ini menciptakan kisah perlawanan menginspirasi, kisah yang memberi cermin pada banyak orang untuk menilai sejauh mana perjuangan untuk mempertahankan identitas dan tempat hidup.
Sikap para ksatria turut menginspirasi Festival Wai Humba. Festival yang telah berlangsung selama kurang lebih 8 tahun untuk mempertahankan martabat tanah Humba. Sebagai peringatan bahwa merusak sejengkal bagian Sumba adalah tindakan fatal yang akan dilawan.
Peringatan sekaligus pelajaran bagi masyarakat luas bahwa di Selatan Indonesia, Tau Humba tidak akan berhenti menjaga dan merawat martabat tanah warisan leluhurnya. ‘Nda Humba Li La Mohu Akama – Kami bukan Sumba yang Menuju Kepunahan.’
Festival ini pertama kali di lakukan pada bulan Oktober 2012 silam, di lokasi bekas tambang, di Paponggu di kawasan pegunungan Tana Daru, Sumba Tengah; yang kedua di lereng gunung Yawilla, tepatnya di Umma Pande, desa Dikira Kabupaten Sumba Barat Daya.
Ketiga di Desa Ramuk, Sumba Timur, Keempat di Paponggu, Tanadaru, Sumba Tengah dan yang kelima di Kadahang, Haharu, Sumba Timur, keenam di Porunombu, ketujuh di Yawilla.
Tinggalkan Balasan