Enos Eka Dede: Banyak Perantau Asal Sumba Yang Bekerja Secara Profesional Dan Berhasil Diberbagai Bidang
STORINTT – Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Sumba Barat Daya, Enos Eka Dede menyebut banyak perantau asal Sumba yang bekerja secara profesional dan berhasil diberbagai bidang.
Hal itu disampaikan Enos Eka Dede dalam talk show bertajuk “Stigma, Tantangan, dan Solusi: Komitmen Mewujudkan Kehidupan Harmonis Warga Sumba di Bali” diselenggarakan di Gedung Presisi PRG Polda Bali beberapa hari lalu.
Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat, Yeremia Ndapa Doda, serta Badan Pengurus IKKES Bali dan sejumlah perwakilan masyarakat Sumba di Bali.
Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog terbuka dalam membahas berbagai dinamika yang dihadapi warga Sumba di perantauan, khususnya di Pulau Bali.
Dalam forum tersebut juga dibahas berbagai tantangan yang dihadapi warga Sumba di Bali, antara lain persaingan kerja yang semakin ketat serta stigma generalisasi yang masih melekat.
Selain itu, persoalan administrasi domisili seperti kelengkapan dokumen administrasi kependudukan (adminduk) juga menjadi kendala, termasuk kesulitan memperoleh surat keterangan domisili akibat stigma yang berkembang.
Tantangan lainnya adalah akses pendidikan bagi anak-anak perantau serta perlunya peningkatan kompetensi, khususnya bagi para pekerja asal Sumba agar mampu bersaing secara profesional di dunia kerja.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya akan melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, dan Kota Denpasar.
Kerja sama ini bertujuan untuk memfasilitasi kelengkapan data administrasi kependudukan warga Sumba Barat Daya di Bali sehingga terwujud tertib adminduk.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya mewajibkan setiap warga yang akan bekerja di Bali untuk memiliki surat rekomendasi atau “izin bekerja” dari pemerintah daerah sebelum berangkat.
Data tersebut akan menjadi dasar koordinasi dengan pemerintah daerah tujuan serta memudahkan pemantauan melalui organisasi atau komunitas Ikatan Keluarga Sumba Barat Daya dan Ikatan Keluarga Sumba di Bali.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat silaturahmi, meningkatkan pengawasan, serta mencegah terjadinya persoalan sosial di kemudian hari.
Dalam dialog itu, Enos Eka Dede menegaskan pentingnya meluruskan persepsi publik terkait stigma yang kerap dilekatkan kepada warga Sumba.
Ia menjelaskan bahwa persepsi masyarakat lokal sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan realita di lapangan.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif dinilai menjadi kunci dalam meredam kesalahpahaman dan memperkuat harmonisasi sosial.
“Tidak semua warga masyarakat Sumba terlibat konflik. Banyak perantau asal Sumba yang bekerja secara profesional dan berhasil di berbagai bidang. Namun, kasus-kasus individual kerap digeneralisasi sehingga menimbulkan stigma,” tegas Asisten III Kabupaten Sumba Barat Daya itu.
Karena itu, kata dia, diperlukan klarifikasi berbasis data serta dialog terbuka antara pemerintah di Pulau Sumba dan Bali, bersama tokoh masyarakat, tetua adat di Bali, serta organisasi atau paguyuban masyarakat Sumba di Bali.
Melalui talk show ini, seluruh pihak berkomitmen untuk terus membangun komunikasi yang sehat, mengedepankan data dan dialog, serta memperkuat sinergi lintas daerah demi mewujudkan kehidupan yang harmonis antara warga Sumba dan masyarakat Bali.***