Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Jun, Siswa SDN Wanno Talla di Desa Raba Ege Yang Viral Tidak Terima Bantuan PIP, Orangtua Tidak Terima PKH

Rian Marviriks Storintt.id
Disisi lain, orangtua Jun yang sudah menjadi warga Desa Raba Ege, Kecamatan Wewewa Barat selama 5 tahun, juga tidak menerima bantuan PKH, termasuk rumah layak huni dan bantuan meteran listrik.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT – Siswa kelas IV SDN Wanno Talla, Firjun Saputra Tanggu alias Jun tidak menerima bantuan Program Indonesia Pintar(PIP) meski berasal dari keluarga yang berkategori tidak mampu.

Jun merupakan anak dari sepasang suami istri, Arianto Malo dan Debora Milla Ate warga Kampung Puu Redapa, Dusun III, Desa Raba Ege, Wewewa Barat, Sumba Barat Daya, NTT.

Jun yang saat ini berada di bangku kelas IV SDN Wanno Talla tidak pernah mendapatkan bantuan PIP. Bukan hanya Jun, kakaknya yang juga kelas V mengalami hal yang sama.

Selama ini, orangtua Jun hanya menjual hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan sekolah. Debora mengaku bahwa dirinya bersama suami hanya bisa menjual cabai, kelapa dan pinang.

Baca Juga  Hasil Pilkada Sumba Barat Daya, Ratu Angga Menang Berdasarkan Data Masuk Dari 11 Kecamatan di Sirekap

Dengan pendapatan itu, Debora mengaku kesulitan dalam membeli kebutuhan sekolah kedua anaknya. Sehingga, tak heran, jika Jun harus menggunakan sepatu yang sudah sobek ketika ke sekolah.

“Kami ada 3 orang anak, yang pertama kelas V SD, Jun kelas IV SD, yang ketiga belum sekolah. Selama ini kedua anak saya tidak mendapatkan bantuan PIP. Untuk memenuhi kebutuhan saya dan suami jual kelapa, lombok, pinang,” kata Debora, Senin, (16/02/2026).

Disisi lain, orangtua Jun yang sudah menjadi warga Desa Raba Ege, Kecamatan Wewewa Barat selama 5 tahun, juga tidak menerima bantuan PKH, termasuk rumah layak huni dan bantuan meteran listrik.

Kendati demikian, orangtua Jun hanya bisa pasrah dan menabung hasil jualan kebun demi membeli meteran listrik. Mereka memasang meteran listrik tanpa bantuan dari siapa pun, termasuk pengadaan kabel listrik dan beberapa titik bola listrik yang terinstalasi.

Baca Juga  Orangtua Siswa SDN Wanno Talla Tidak Terima PKH Selama ini Karena Kartu Keluarga Ganda, Tahap I 2026 Dalam Proses Burekol

Mirisnya lagi, suami dari Debora pernah terdata sebagai penerima Bansos, namun dicoret ketika hendak menerima bantuan tersebut.

“Kami sudah ada Kartu Keluarga(KK), tapi selama ini pernah menerima bansos, tapi kemudian dicoret. Pemerintah desa bilang saya yang ganti suami untuk terima BLT Kesra pada tahun 2025. Saya sudah terima hanya satu kali Rp900 ribu. Tidak ada bantuan-bantuan yang lain. Uang itu juga yang saya pakai untuk beli perlengkapan sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari,” kata Debora.***

Tutup
error: Content is protected !!