Legenda Watu Maladong di Sumba Barat Daya NTT
“Bukankah ia yang melemparkan tombaknya ke perutku sewaktu aku berwujud seekor babi ?”, ujar kepala suku dalam hati sambil menatap tajam kearah sang petani.
“Baiklah..”, kata kepala suku singkat dengan suara bergetar.
“Aku akan mengembalikan tombakmu”, katanya singkat.
“Lalu apa permintaanmu yang kedua ?”, tanyanya tak sabar.
Sang petani semula ragu mengutarakan keinginannya. Tapi mengingat kampung halamannya memerlukan mata air dan tanaman palawija yang bisa tumbuh subur disana, akhirnya ia berkata.
“Aku menginginkan Watu Maladong milikmu”, ujarnya dengan suara sedatar mungkin.
“kampungku memerlukannya”, tambahnya lagi sambil mengamati reaksi kepala suku. Kepala suku bagaikan disambar petir mendengar permintaan sang petani.
“Tentulah orang ini bukan orang sembarangan”, pikirnya mengambil kesimpulan.
“Kalau tidak, bagaimana mungkin ia tahu Watu Maladong kepunyaanku ?”, gumamnya perlahan sambil menahan tubuhnya yang mulai gemetar menahan emosi.
“Kau tahu kesaktian Watu Maladong milikku bukan ?”, tanya kepala suku. Sang petani mengangguk.
Tinggalkan Balasan