Legenda Watu Maladong di Sumba Barat Daya NTT
Matanya terpejam, ia membiarkan tubuhnya seolah olah menyatu dengan bumi. Sang petani merasakan bumi terbelah dan ia tertelan bumi.
Meski sedikit panik, ia terus memejamkan mata sambil menenangkan diri. Tubuhnya pelan-pelan mulai terbenam. Kepalanya terasa pusing dan perutnya mual akibat guncangan yang dasyat itu.
Timbul rasa takut dalam dirinya. Setelah setengah jam, si petani merasakan guncangan bumi mulai melemah. Napasnya normal, rasa pusing dan mualnya mulai hilang .
Cukup lama sang petani merasakan tubuhnya terguncang sebelum akhirnya guncangan itu semakin berkurang.
Kira kira satu jam kemudian sang petani mendapati dirinya berada dalam posisi terlentang di atas tanah tempatnya berdiri.
Sang petani bersyukur dirinya baik baik saja. Tak mau membuang waktu, sang petani segera mengarahkan tombak saktinya kearah langit malam.
Ia memusatkan perhatian pada ina Magholo-Ama Marawi dalam wujud Guntur-Kilat.
Tak lama kemudian petir menyambar nyambar membelah langit yang gelap. Sinarnya sungguh menyilaukan mata. Sebuah petir yang diikuti suara menggelegar menyambar tubuh pemuda lawannya.
Tinggalkan Balasan