Miris, Meliput Aksi Warga Menolak Proyek Geotermal, Pemimpin Redaksi Floresa Diintimidasi dan Dianiaya Oknum Aparat
Untuk meyakinkan polisi itu, saya menunjukkan surat tugas yang saya berikan kepada jurnalis Floresa yang lain.
Di dalam surat itu, terdapat tanda tangan saya sebagai pemimpin redaksi.
Polisi itu memeriksa dan membuka beberapa berkas di dalamnya termasuk foto dan rekaman wawancara saya dengan narasumber.
Setelah melihat foto dan mendengar rekaman wawancara saya, polisi itu berkata, “kraeng [Anda] kerja macam intel.”
Merespons hal itu, saya berkata, “saya jurnalis, bukan intel.”
Polisi itu berkata, “saya akui kraeng seorang penulis karena kraeng sangat hati-hati memilih kata.”
Saya menduga polisi itu sebetulnya tahu bahwa saya merupakan jurnalis Floresa karena ia berkata, “saya tahu beberapa tulisan kraeng tentang proyek geotermal.”
Dia juga bertanya, “apa saja yang kraeng tulis tentang proyek geotermal di Poco Leok?”
Saya menjawab, “salah satu tulisan saya adalah wawancara khusus dengan
seorang mama dari Poco Leok. Ite [Anda] bisa cek di web Floresa.”
Saya juga meminta polisi yang menyita ponsel saya untuk membuka web Floresa.
Tinggalkan Balasan