Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Sebelum Pasola Lamboya Ricuh, Para “Rato” Sudah Minta Berhentikan, Kades Harona Kalla: Kami Minta Maaf

Rian Marviriks Storintt.id
Setelah menyampaikan pesan itu, para "rato" tersebut meninggalkan lapangan Homba Kalla. Sayangnya, para penunggang kuda yang sedang melakukan atraksi tidak mengindahkan permintaan itu. Dampaknya, kericuhan pun terjadi.

STORINTT – Pemandangan tak elok disaksikan ribuan penonton dalam ritual pasola di Lapangan Homba Kalla, Lamboya, Sumba Barat, Selasa(10/02/2026) pagi tadi.

Bagaimana tidak, pertunjukan yang semestinya membawa pengalaman baru bagi wisatawan, malah meninggalkan kesan buruk. Polisi yang turut menyaksikan atraksi para kasatria berkuda itu pun harus melepas tembakan gas air mata.

Kendati memantik perhatian publik, ternyata sebelum ricuh, ritual pasola sudah mendapat pemberitahuan dari “rato” untuk segera berhentikan atraksi tersebut.

Dikonfirmasi, Kepala Desa Harona Kalla, Oktavianus Taba Kadi membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengaku belum mengetahui pemicu kericuhan tersebut.

Namun demikian, Oktavianus menjelaskan, kericuhan terjadi setelah para “rato” menyampaikan pemberitahuan untuk segera memberhentikan atraksi tersebut.

Baca Juga  Pasola Lamboya Sumba Barat Berlangsung Ricuh, Wisatawan Kecewa

Setelah menyampaikan pesan itu, para “rato” tersebut meninggalkan lapangan Homba Kalla. Sayangnya, para penunggang kuda yang sedang melakukan atraksi tidak mengindahkan permintaan itu. Dampaknya, kericuhan pun terjadi.

Menurutnya, dalam ritual pasola, semua pihak, termasuk kasatria berkuda wajib mendengarkan himbaun para “rato” baik dari proses persiapan hingga pada puncak kegiatan. Sebab, para “rato” kata dia, merupakan pihak yang paling dihargai dalam ritual pasola.

“Jadi sebelum kacau para rato sudah minta kasih berhenti. Tapi penunggang kuda tidak dengar. Dibelakangnya rato baru terjadi kacau. Kalau saja penunggang kuda dengar, mungkin saja tidak terjadi kekacauan di lapangan itu,” kata Kepala Desa Harona Kall, Oktavianus Taba Kadi ketika dikonfirmasi storintt.id via telefon whatshap.

Baca Juga  Legenda Watu Maladong di Sumba Barat Daya NTT

Menurutnya, kekacauan itu terjadi setelah ritual pasola berlangsung hampir 2 jam. Selama pertunjukan itu, pengunjung menyaksikannya dengan suasana riang gembira.

Namun, ia tak menyangka bahwa suasana yang begitu ramai dan kondusif justru mendapat sorotan negatif dari berbagai pihak, termasuk wisatawan.

Dengan kejadian itu, Oktavianus meminta maaf kepada seluruh wisatawan yang sudah merasa kecewa dalam menyaksikan ritual pasola di wilayahnya.

“Atas nama pemerintah desa dan seluruh masyarakat Harona Kalla, saya meminta maaf atas kejadian ini. Tentunya kita semua tidak menginginkan ini terjadi. Dan juga kita semua berharap di tahun yang akan datang akan lebih baik lagi, sehingga membuat kita semua merasakan kenyamanan,” ucap Oktavianus.***

Tutup
error: Content is protected !!