Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Cerita Cara Orang Sumba Bersepakat Dengan Alam 

TIMEXNTT – Banyak nama tempat di pulau sumba yang diawali dengan kata air. Ambil contoh, kempat nama ibukota kabupaten di Pulau Sumba di awali dengan nama air (wai/wee)? Sumba Timur dengan Waingapu, Sumba Tengah dengan Waibakul, Sumba Barat dengan Waikabubak, Sumba Barat Daya dengan Weetebula (kini Tambolaka).

Sejak dulu kala, nenek moyang Orang Humba sangat menghormati sang pencipta dan alam semesta. Mereka melakukakan persembahyangan di pusat-pusat sumber air. Dalam bahasa Humba Kambera disebut Kalarat Wai; atau Pa Erri Wee dalam bahasa Humba Wewewa.

Kalarat Wai atau Pa Erri Wee merupakan aktivitas religius aliran kepercayaan Marapu. Hingga kini, aktivitas tersebut masih sering dilakukan oleh orang-orang tua di kampung yang masih beraliran kepercayaan Marapu.

Aktivitas ini selain merupakan ibadah ucapan syukur juga sekaligus ibadah permohonan kepada pencipta agar senantiasa melimpahkan karunia air buat orang Humba.

Tidak boleh ada aktivitas manusia dalam hal pengrusakan, khususnya di kawasan-kawasan mata air tempat persembahyangan.

Wai Humba, festival empat gunung, Gunung Wanggameti – sumba timur, Tana Daru – sumba tengah, Yawilla – sumba barat daya, Porunombu – sumba barat adalah sebuah Gerakan akar rumput untuk mendekatkan kembali manusia dengan Sang Pencipta dan alam sekitarnya.

Baca Juga  Tahap-Tahap Dalam Perkawinan Adat Sumba yang Perlu Kamu Tahu

Festival yang terinspirasi dari Kalarat Wai atau Pa Erri Wee ala nenek moyang menjadi salah satu upaya pelestarian budaya Humba dalam konteks perlindungan alam dari pengrusakan yang serampangan.

Keempat gunung ini merupakan 4 empat kawasan utama di Pulau Sumba yang berfungsi sebagai penyuplai kehidupan ekonomi, sosial budaya hingga kesehatan bagi rakyat Humba.

Melawan Lupa (Misteri Rara Wu)

Berbicara tentang tanah, orang Sumba akan berbicara tentang hidup. Hal inilah yang membuat para ksatria, Umbu Ndjanji, Umbu Pendi Ngara dan Umbu Mehang mengambil sikap untuk melawan tambang yang merusak tanah ulayat mereka, di paponggu, lembah rara wu, prai karoku jangga, sumba tengah.

Sikap kesatria ketiga umbu ini menjadi titik temu masyarakat Sumba khususnya untuk memahami betapa sikap tertindas hanya akan menciptakan perlawanan. Bahwa menjaga lingkungan adalah keharusan. Bahwa bayaran untuk terus hidup adalah dengan nyawa sendiri.

Baca Juga  Legenda Watu Maladong di Sumba Barat Daya NTT

Tiga Umbu ini menciptakan kisah perlawanan menginspirasi, kisah yang memberi cermin pada banyak orang untuk menilai sejauh mana perjuangan untuk mempertahankan identitas dan tempat hidup.

Sikap para ksatria turut menginspirasi Festival Wai Humba. Festival yang telah berlangsung selama kurang lebih 8 tahun untuk mempertahankan martabat tanah Humba. Sebagai peringatan bahwa merusak sejengkal bagian Sumba adalah tindakan fatal yang akan dilawan.

Peringatan sekaligus pelajaran bagi masyarakat luas bahwa di Selatan Indonesia, Tau Humba tidak akan berhenti menjaga dan merawat martabat tanah warisan leluhurnya. ‘Nda Humba Li La Mohu Akama – Kami bukan Sumba yang Menuju Kepunahan.’

Festival ini pertama kali di lakukan pada bulan Oktober 2012 silam, di lokasi bekas tambang, di Paponggu di kawasan pegunungan Tana Daru, Sumba Tengah; yang kedua di lereng gunung Yawilla, tepatnya di Umma Pande, desa Dikira Kabupaten Sumba Barat Daya.

Ketiga di Desa Ramuk, Sumba Timur, Keempat di Paponggu, Tanadaru, Sumba Tengah dan yang kelima di Kadahang, Haharu, Sumba Timur, keenam di Porunombu, ketujuh di Yawilla.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!