Cerita Cara Orang Sumba Bersepakat Dengan Alam
Yang ke delapan di Wanggameti (Kampung Kananggar, Paberiwai) festival wai humba di adakan setiap bulan kesepuluh setiap tahun atau sesuai dengan kesepakatan dalam rembuk adat.
Senada sebagai perayaan thanksgiving (pengucapan syukur) orang Sumba, festival ini juga sebagai Gerakan untuk mendekatkan kembali manusia dengan Sang Pencipta dan alam sekitarnya, sebagai ruang berkumpul kembali bersama keluarga Sumba dari segala penjuru untuk merayakan dan merefleksikan identitas mereka sebagai orang Sumba.
Festival Wai Humba dikemas sebagai sebuah ibadah, pesta rakyat, dan upaya mengkampanyekan pelestarian lingkungan hidup di Sumba sambal mengucap syukur kepada Sang Pencipta dan leluhur yang telah menghubungkan dan menanamkan kearifan alam.
Juga sebagai upaya memanusiakan manusia, cita-cita luhur yang oleh orang Sumba dikenal sebagai Tau rakka tau (bahasa Humba Kambera: manusia semestinya manusia).
Banyak sekali misi baik yang diselenggarakan: pentas seni yang menampilkan tarian untuk menyatakan bahwa budaya Sumba masih dijaga dengan pesan dalam setiap hentakan kaki dan gerakan tangan, ungkapan syukur kepada Pencipta dan leluhur akan tatanan alam yang luar biasa.
Wai Humba Menjawab krisis iklim dan pangan global
Tau Humba punya cara tersendiri untuk bersepakat dengan alam semesta yang luar biasa. Cara-cara konservasi alam seperti ini akan sangat baik dilestariakan untuk menjaga keberlangsungan alam dengan memanfaatkan kepedulian luhur masyarakat Sumba pada lingkungan tempat mereka berpijak.
Festival Wai Humba adalaha sebuah refleksi Ke-Humba-an. Festival ini bukan festival wisata melainkan sebuah gerakan akar rumput dan ruang konsolidasi kebudayaan masyarakat se-pulau Sumba.
Arus pembangunan modern saat ini merupakan tantangan tersendiri bagi kita untuk mempertahankan kebudayaan yang humanistik, ramah lingkungan serta berketuhanan.
Kiranya kebudayaan tidak dianggap sebagai aset pariwisata saja tapi lebih dari itu, sebagai jati diri. Dalam setiap festival wai humba, ikrar persaudaraan dibangun sebagai komitmen bersama bahwa kita adalah satu kesatuan.
Ikrar persaudaraan ini ditandai dengan semangat kekeluargaan dari berbagai suku yang ada di pulau Sumba untuk secara bersama-sama merawat budaya Humba.
Ragam pangan lokal dari jenis sayuran, kacang kacangan hingga umbi-umbian tergerus oleh kebiasaan konsumsi makanaan instan dan nasi.
Padahal pangan lokal adalah tanaman yang paling adaptif dengan kondisi di Sumba sehingga mudah untuk dibudidayakan.
Ditengah perubahan iklim yang kian signifikan, potensi kelaparan akan selalu mengintai daerah kita dan isu stunting yang tak pernah usai. Festival ini untuk mengajak kita kembali memperkuat kemandirian sektor pangan.
Oleh karena itu, festival ini selalu menyuguhkan pangan lokal untuk konsumsi selama festival berlangsung.
Permainan tradisional Humba yang kaya akan nilai nilai moral dan pergaulan sosial juga mulai kehilangan peminat terutama di kalangan anak anak.
Hal ini akibat dari meningkatnya minat masyarakat sekarang pada permainan permainan online. Fenomena ini tentu akan mengancam kelestarian permainan tradisional serta sekaligus memusnahkan karya karya intelektual masyarakat di kampung.
Komunitas peduli martabat tanah Sumba (KMPTS Wai Humba) menangkap kegelisahan ini dan berinisitif untuk merekam ulang serta berkomitmen untuk menjadikan permainan tradisional Sumba sebagai ajang perlombaan olahraga tradisional dalam rangkain festival wai humba.
Tinggalkan Balasan