Dicecar 63 Pertanyaan di Polres Sumba Barat Daya Soal Tanggul Pantai Mananga Aba: Semua Sudah Saya Jawab, Saya Ingin Damai
STORINTT – Polemik pembangunan tanggul di Pantai Mananga Aba, tepatnya di depan Hotel Mario, Desa Karuni, Kecamatan Loura, terus bergulir.
Dari teguran keras Pemda hingga klarifikasi pemilik hotel, kasus ini kemudian berlanjut ke Polres Sumba Barat Daya.
Pemilik Hotel Mario, Aloysius Purwa mengaku telah memberi klarifikasi di Polres Sumba Barat Daya pada Kamis(22/10/2026) terkait pembangunan tanggul di Pantai Mananga Aba depan Hotel Mario yang dipersoalkan Pemda.
Di Polres, ia dicecar dengan 63 pertanyaan dan semuanya sudah dijawab secara terbuka dan jujur.
“Di Polres, hal-hal apa saja yang ditanyakan soal itu, semuanya sudah saya jawab. Saya dicecar 63 pertanyaan dan semua saya jawab dengan jujur,” ujar Aloysius.
Setelah pemeriksaan, lokasi tanggul tersebut langsung dipasangi garis polisi dan ia diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun lagi di lokasi tersebut.
“Setelah itu sudah dipasang garis polisi, tidak apa-apa, jangan ada apa-apa lagi di sana,” katanya.
Ia menegaskan, pembangunan tanggul tersebut sudah selesai total dan tidak ada rencana untuk membangun tambahan apapun lagi di lokasi itu. Ia khawatir ada anggapan bahwa dirinya akan terus membangun.
“Saya bilang ini sudah selesai kok, dikira mungkin ada yang mengira saya mau membangun apa-apa tambahan di sana. Tidak ada lagi, sudah selesai,” tegasnya.
Terkait proses hukum yang kini sudah di tangan polisi, Aloysius hanya berharap semuanya bisa berakhir damai. Ia tidak ingin persoalan ini berlarut-larut dan menyusahkan banyak pihak.
“Harapan saya damailah semua. Untuk apa susah, kita berbuat baiklah untuk semua. Ayo bikin ini sama-sama memajukan pariwisata yang sangat dibutuhkan oleh Sumba untuk kepentingan PAD juga untuk lapangan pekerjaan yang sangat dibutuhkan oleh Sumba,” ungkapnya.
Ia pun membuka latar belakangnya bahwa dirinya bukanlah investor baru di Sumba. Ia adalah co-founder dari Sekolah Hotel School yang ada di Karuni, Loura, yang telah menyelamatkan masa depan 600 anak Sumba yang kini bekerja di seluruh dunia.
“Kalau boleh saya kasih tahu, saya adalah co-founder dari Sekolah Hotel School yang ada di Karuni ini. Saya yang membawa tim untuk membangun sekolah hotel ini yang sudah menyelamatkan 600 orang Sumba yang kerja di seluruh dunia di mana-mana. Jadi saya memikirkan untuk kepentingan semua, bukan untuk kepentingan saya sendiri. Kalau saya sendiri sih sudah cukup di Bali,” jelasnya.
Soal anggaran pembangunan tanggul yang dipermasalahkan, ia pun menjawab gamblang di hadapan penyidik Polres. Saat ditanya sumber dana, ia menjawab tegas bahwa itu murni uang pribadi.
“Dari sisi anggaran ditanyakan tidak apa-apa, saya kasih tahu, sumbernya dari saya sendiri, pribadi, demi kebaikan publik, kebaikan banyak orang,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan akar masalah abrasi di Pantai Mananga Aba. Dulu, siklus pasir masih alami, bulan-bulan tertentu pasir masuk, bulan tertentu keluar lagi.
Namun setelah maraknya penambangan pasir liar dengan ribuan truk yang diambil dari wilayah Karuni, pasir tidak pernah kembali lagi dan pantai terkikis habis.
“Sebelum ada penambangan pasir, setiap tahun setiap bulan tertentu pasirnya masuk, setiap bulan tertentu pasirnya keluar lagi. Tetapi setelah ada penambangan liar dengan ribuan truk diambil dari Karuni, itu tidak balik lagi, dia keluar habis ke dalam,” ungkapnya.
Ia membenarkan bahwa pihak Dinas Kelautan juga sudah menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan secara aturan memang tidak dibenarkan karena belum mengantongi izin.
“Kalau pesan dari pihak kelautan, mereka kasih tahu bahwa apa yang saya lakukan itu sebenarnya dari sisi aturannya itu tidak dibenarkan,” akunya.
Kini ia memilih patuh, menghormati garis polisi yang terpasang, dan menunggu solusi terbaik bersama pemerintah daerah.***