Dinas Perikanan SBD Budidaya Ikan Lele Untuk Meningkatkan PAD dan Pemenuhan Kebutuhan Dapur MBG
STORINTT – Berbagai upaya sedang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sumba Barat Daya di bawah kepemimpinan Hery Bora pasca dilantik sebagai kepala dinas.
Selain mempunyai target dalam memperkuat pengolahan hasil di sektor Perikanan untuk kebutuhan wisata kuliner ikan, ia juga sedang memastikan kebutuhan budidaya ikan tawar jenis lele dan nila.
Hery mengatakan, saat ini pihaknya sedang mendongkrak semua bidang pada dinas itu untuk memberi dampak pada peningkatan Pendapat Asli Daerah(PAD), termasuk pemenuhan kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis(MBG).
Menurutnya, Pemda SBD melalui Dinas Perikanan dan Kelautan memiliki dua lokasi untuk budidaya ikan tawar.
Namun, dikarenakan kekurangan air, budidaya ikan tawar di Karuni disebutnya kurang efektif. Sedangkan, di Wekelo Sawah disebutnya mempunyai potensi yang baik.
Selama ini, masih kata dia, satu-satunya yang potensial mendatangkan PAD di sektor perikanan adalah pengembangan Balai Benih Ikan (BBI) ini.
“Sekarang kita lagi pacu di semua lini, tentunya dari sisi budidaya ini juga yang cukup potensial,” kata Heri, Selasa(03/02/2026).
“Kemarin waktu peresmian salah satu dapur MBG di Kadiwanno, saya sudah berkoordinasi dengan kordinatornya. Jadi saya utarakan dan disambut baik oleh Pak Korwil. Ini kedepannya kalau sampai kita MoU itu sangat baik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hery menambahkan, nantinya juga akan disediakan tempat pancing ikan. Saat ini, sudah tersedia satu bak yang bisa dimanfaatkan.
“Kebetulan itu juga yang menjadi target kita. Saya juga sangat tertarik dengan adanya wisata mancing ikan, kita juga sudah punyak satu bak khusus untuk membuka tempat pemancingan. Nantinya 1 kg itu Rp40 ribu,” katanya lagi.
Respon Yayasan Tana Manda Sumba Mitra BGN
Sementara itu, Ketua Yayasan Tana Manda, Adam Mone menyambut baik rencana Dinas Perikanan dan Kelautan yang saat ini sedang budidaya ikan lele.
Menurutnya, kebutuhan ikan lele menjadi salah satu kebutuhan menu yang diijinkan oleh Badan Gizi Nasional(BGN) selama menjamin kualitas ikan tersebut.
Namun, hingga saat ini belum ada petunjuk teknis tentang jenis ikan lele yang diwajibkan. Meski begitu, ia menilai perencanaan itu sebagai langkah baik pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dapur.
“Badan gizi bolehkan itu sepanjang kualitasnya bagus, pasti kita pakai. Sampai saat ini belum ada petunjuk jenis ikan lele tertentu, tapi nantikan pasti studi dulu dalam membicarakan soal standarnya,” kata Adam yang dibubungi terpisah.
Menurutnya, selama ini dapur yang berada di bawah naungan Yayasan Tana Manda belum pernah menggunakan menu daging ikan lele. Sebab, penyedia stok belum ada.
“Pemilik dapaur sangat berharap mengambil di peternak lokal, supaya uang jangan lari di daerah lain. Selain lemenuhan gizi, juga untuk meningkatkan ekonomi daerah. Kalau ada budidaya ikan lele, kita harap betul, apalagi tidak terlalu rentan keracunan. Di daerah-daerah lain banyak yang pakai ikan lele,” harapnya.***