Fraksi Perindo DPRD SBD Menyoroti Keseriusan Dinas Pariwisata Dalam Menata Destinasi Wisata Berkelanjutan: Toilet Terlihat Kumuh
STORINTT – Keseriusan Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya yang saat ini dikendalikan oleh Heribertus D Hakalolu mendapat sorotan dari Fraksi Perindo, DPRD Sumba Barat Daya, NTT.
Fraksi Perindo dalam rapat paripurna V masa sidang II pada 26 Juni 2026 mengkritisi soal peningkatan sarana pariwisata di Pantai Kawona, Desa Kadi Pada.
Wakil Ketua DPRD Sumba Barat Daya, Yus Bora mengatakan, sehubungan dengan program pengembangan destinasi pariwisata di Desa Kadi Pada, Fraksi Perindo menyampaikan beberapa temuan di lapangan terkait sarana yang telah dibangun.
“Kami berharap dinas pariwisata dapat memberikan perhatian dan pertimbangan untuk perbaikan ke depan, agar tujuan wisata yang berkelanjutan dapat tercapai,” kata Yus Bora, Minggu(28/06/2026).
Dalam rapat paripurna tersebut, Fraksi Perindo juga menyoroti material yang digunakan untuk pembangunan lopo. Mereka menilai kalau material tersebut tidak sesuai konsep ekowisata.
Menurut Yus Bora, lopo yang dibangun saat ini menggunakan atap seng, sehingga ia menilai penggunaan material tersebut kurang selaras dengan estetika alam Desa Kadi Pada yang mengusung konsep alam dan budaya lokal.
Selain dari segi visual, atap seng juga disebutnya memiliki daya tahan yang rendah terhadap cuaca ekstrem dan berpotensi meningkatkan suhu di dalam lopo sehingga kurang nyaman bagi pengunjung.
“Kami mengusulkan penggantian material atap menggunakan bahan alami seperti alang-alang, ijuk, atau genteng tanah liat. material ini lebih ramah lingkungan, tahan lama, serta memperkuat identitas wisata desa,” katanya lagi.
Selain itu, Fraksi Perindo DPRD Sumba Barat Daya juga menyoroti soal kebersihan toilet umum yang berada di pantai tersebut. Fraksi Perindo menemukan kalau fasilitas toilet yang baru selesai dibangun belum diresmikan, namun sudah ditemukan kerusakan pada beberapa bagian.
“Hal ini dikhawatirkan akan berdampak pada kenyamanan dan kebersihan wisatawan,” kata Yus Bora.
Bukan hanya itu, kapasitas tandon air yang tersedia saat ini hanya 1.100 liter. kapasitas tersebut dinilai kurang mencukupi, terutama pada musim ramai pengunjung.
Untuk itu, Dinas Pariwisata diminta untuk melakukan perbaikan kerusakan ringan pada toilet sebelum peresmian, serta penambahan kapasitas tandon air atau pemasangan tandon tambahan guna menjamin ketersediaan air bersih secara berkelanjutan.
“kami meyakini bahwa perbaikan pada dua aspek tersebut akan meningkatkan daya tarik, kenyamanan, dan keberlanjutan desa kadi pada sebagai destinasi wisata,” tambah Yus Bora.***