Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ke Depan, Pelaku UMKM di Ekowisata Watukagorok Dorong Kesadaran Wisatawan: Hentikan Kebiasaan…

Rian Marviriks Storintt.id
Disisi lain, ke depannya, ketika penataan dan pemberlakuan karcis telah dijalankan, Yunina meminta kesadaran seluruh wisatan untuk menghentikan kebiasaan membawa bekal dari rumah.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT – Pemerintah Sumba Barat Daya secara konsisten mengucurkan dukungan bagi para pelaku UMKM. Selain menyalurkan bantuan berupa alat-alat usaha produktif, pemerintah juga menyediakan fasilitas tempat, salah satunya penataan ekowisata watukagorok.

Diketahui, bahwasannya, sektor ekowisata kian menjadi pilihan favorit masyarakat untuk melepas penat. Salah satu destinasi yang terus menyedot perhatian adalah ekowisata watukagorok. Saat ini, penataan terus dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Pariwisata.

Ditemui, salah satu pelaku UMKM lokal dari Desa Reda Pada, Kecamatan Wewewa Barat, Yunina Bani mengatakan, dirinya telah membuka usaha kecil-kecilan di ekowisata tersebut. Ia mengakui bahwa jenis usaha yang ditawarkan belum begitu lengkap.

Yunina juga mendapat bantuan alat-alat usaha produktif dari pemerintah. Namun, ia belum bisa memanfaatkan karena dilokasi tersebut belum tersedia jaringan listrik.

“Memang saat ini, saya belum bisa melengkapi kebutuhan-kebutuhan pengunjung di tempat ini karena juga masih dalam proses penataan. Tapi saya bersyukur pemerintah sudah menyediakan tempat yang saya anggap bagus dan membantu peningkatan ekonomi keluarga saya,” kata Yunina, Senin(07/09/2026).

Yunina menyebut hampir setiap hari pengunjungan mendatangi hutan wisata watukagorok. Namun, dikarenakan proses penataan masih dilakukan, ia mengakui kalau dagangannya belum bisa terjual habis dikarenakan pengunjung membawa bekal dari rumah.

“Ya, kalau sekarang saya harus akui karena memang tempat ini masih dalam penataan, jika sudah beres, karcis masuk diberlakukan, saya yakin jualan kami juga akan laku. Sekarang yang saya sediakan itu pop mie, kopi. Yang paljng laris kopi. Kalau kantin yang sedang dibangun sudah selesai, saya baru bisa membuka warung makan. Sekarang pemerintah ada sementara bangun 4 kantin dan satu lagi sedang dibangun untuk tenun,” kata dia.

Disisi lain, ke depannya, ketika penataan dan pemberlakuan karcis telah dijalankan, Yunina meminta kesadaran seluruh wisatan untuk menghentikan kebiasaan membawa bekal dari rumah.

Menurutnya, kehadiran hutan wisata watukagorok bukan hanya semata-mata disediakan pemerintah untuk menikmati keindahan, tetapi juga untuk memberdayakan ekonomi warga sekitar.

Tentunya, ketika sebagian besar pengunjung memilih membawa bekal sendiri dalam jumlah besar, roda perekonomian lokal menjadi tersendat. Kantin yang telah didirikan juga akan sepi pembeli.

“Ke depan itu kalau bisa ada aturan yang melarang wisatan bawa makanan dan minuman sendiri dari rumah. Mereka datang saja, dan kami yang buka usaha di sini akan berusaha juga untuk menyiapkan seluruh kebutuhan. Dengan begitu bisa bantu kami juga menambah penghasilan untuk kasih sekolah anak-anak,” pintah Yunina.***

Tutup
error: Content is protected !!