Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Legenda Watu Maladong di Sumba Barat Daya NTT

TIMEXNTT – Pulau Sumba merupakan salah satu pulau kecil yang menyimpan sejuta kekayaan alam serta memiliki berbagai cerita legenda.

Tak hanya soal budaya dan padang sabananya yang eksotik, namun deretan destinasi wisata yang menggoda juga mampu memantik wisatawan untuk terus mengunjunginya.

Beberapa destinasi wisata pantai di Pulau Sumba, khususnya di Kabupaten Sumba Barat Daya sudah sering menjadi tempat pilihan wisatawan dalam melepas penat.

Tentunya keunikan alam yang tersembunyi di bumi marapu ini akan membuat rasa penarasan banyak orang untuk mendatanginya.

Namun demikian, siapa menyangka, dibalik keindahan alam yang sering juluki sebagai surga bumi tersembunyi ini memiliki beragam cerita ataupun legenda.

Asal Muasal beberapa destinasi wisata itu diyakini beberapa masyarakat lokal sebagai kisah yang selalu dikenang dan tersirat makna.

Walaupun demikian, beberapa wisata alam yang konon katanya memiliki kisah yang horor maupun mengisahkan kehidupan leluhur zaman dulu kala, tetap saja ramai dikunjungi.

Selain Legenda Danau Wee Wini di Desa Kalaki Kambe, Kecamatan Wewewa Barat yang mengisahkan kehidupan seorang nenek dalam satu kampung, ternyata Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki cerita rakyat lainnya.

Cerita Rakyat itu adalah asal muasal batu raksasa yang berdiri kokoh di bibir pantai yang kini diberi nama Pantai Watu Maladong.

Pantai Watu Maladong terletak di Desa Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur atau sekitar 57 kilometer dari pusat kota Tambolaka.

Untuk bisa tiba di Pantai ini juga tidak terlalu sulit, kita bisa menggunakan pesawat dengan rute ke Tambolaka.

Pantai Watu Maladong adalah sebuah pantai yang masih belumbegitu terkenal dan masih bisa dibilang tersembunyi di Sumba.

Berikut cerita rakyat tentang legenda destinasi wisata Pantai Watu Maladong di Kabupaten Sumba Barat Daya yang diyakini oleh masyarakat lokal.

Dahulu kala di Sumba, hiduplah seorang petani yang sehari hari mengerjakan kebun miliknya.

Baca Juga  Pekerjaan Jalan Hotmix di Sumba Barat Dinilai Dikerjakan Asal Jadi, Telan Anggaran Rp7 Miliar

Pada suatu pagi, sang petani yang bermaksud melihat kondisi kebunnya sangat terkejut manakala melihat tanaman miliknya hancur berantakan.

Ia mengamati sekeliling dan menemukan jejak babi hutan. Sang petani tak habis pikir bagaimana babi babi itu bisa masuk ke dalam kebunnya yang sekelilingnya pagar tinggi.

Pintu masuk kebunnya pun selalu tertutup dan dikunci kalau sang petani pulang ke rumah. Rasa penasaran membuat sang petani memutuskan untuk menunggui kebunnya malam itu.

Dengan bekal tombak sakti warisan leluhurnya yang bernama Numbu Ranggata, sang petani duduk diam di atas sebuah pohon sambil mengamati sekeliling. Dugaan petani itu benar.

Tak berapa lama ia menunggu, terdengarlah suara sekawanan babi hutan mendatangi kebunnya. Sungguh aneh, kawanan babi itu mampu menembus tembok pembatas kebunnya dengan mudah.

Sang petani mengamati seekor babi yang tengah asyik memakan umbi keladi persis di bawah pohon tempat ia duduk.

Karena penasaran, sang petani melempar tombak Numbu Ranggata miliknya yang tepat mengenai perut babi sial itu.

Sekawanan babi hutan itu langsung pergi meninggalkan kebun begitu mengetahui ada anggotanya yang terluka. Tombak Numbu Ranggata milik sang petani itupun ikut terbawa pergi.

Pagi pagi sekali sang petani mulai menyusuri jejak darah dari perut babi yang terluka. Kali ini bukan hanya rasa penasaran yang ada dihatinya, sang petani juga resah karena tombaknya ikut terbawa.

Tombak Numbu Ranggata miliknya itu harus kembali. Tombak itu adalah tombak sakti yang diwariskan leluhurnya turun temurun. Lagi lagi timbul keanehan.

Jejak darah si babi hutan berhenti di tepi pantai. Sang petani bingung bagaimana mungkin kawanan babi itu datang dari pulau lain. Hal itu membuat sang petani termenung beberapa saat di tepi pantai.

Ia tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi. Tiba tiba sang petani dikejutkan oleh sebuah suara yang menyapanya.

“Apa yang sedang kau lamunkan hai manusia ?”, tanya seekor penyu yang rupanya bisa bercakap cakap.

Baca Juga  Ansy Jane Disambut Puluhan Ribu Masyarakat Sumba Barat; Mewakili perempuan NTT, kami mendoakan ibu 

Lagi lagi sang petani terkejut. Belum pernah ia bertemu dengan hewan yang mampu berbicara layaknya seorang manusia.

Meski jantungnya masih berdebar kencang karena terkejut, sang petani menceritakan apa yang dialaminya kepada si penyu.

“Aku akan mengantarmu ke pantai seberang jika kau mau”, tawar penyu kepada sang petani.

“Aku yakin kau akan menemukan apa yang kau cari disana”, ujarnya lagi.

Sang petani semula ragu untuk menerima tawaran penyu besar itu. Namun ketakutannya dikutuk karena telah menghilangkan tombak sakti warisan leluhurnya, membuat sang petani akhirnya setuju.

Ia pun segera naik ke punggung penyu. Si penyu bergerak membawa sang petani ke pulau seberang. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam, tibalah penyu dan sang petani di sebuah pulau berpantai indah.

“Semoga kau menemukan apa yang kau cari disini”, kata penyu seraya pamit kepada sang petani.

“Jika kau memerlukanku, panjatlah sebuah pohon di pantai dan berteriaklah ke arah laut, aku akan datang menjemputmu”, pesannya lagi.

Tak lama kemudian penyu itu kembali berenang ke tengah laut. Sang petani berjalan menyusuri pantai sambil berharap menemukan seseorang tempat ia bertanya.

Tak memerlukan waktu lama matanya menangkap sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera menghampiri rumah itu dan mengetok pintunya.

Sang petani berharap empunya rumah bisa memberinya petunjuk. Pemilik rumah itu adalah seorang nenek yang tinggal seorang diri.

Setelah memberikan sang petani sedikit makan dan minum, si nenek menanyakan apa maksud kedatangan sang petani ke pulau itu.

Ia mendengarkan cerita sang petani sambil terkadang menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Aku paham ceritamu. Babi babi yang merusak kebunmu adalah babi jadi jadian dari pulau ini”, kata si nenek.

“Mereka adalah sekelompok manusia yang mempunyai ilmu gaib. Mereka merupakan orang orang yang menguasai pulau ini ”, tambahnya lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!