Legenda Watu Maladong di Sumba Barat Daya NTT
Ia kembali ke rumah si nenek di tepi pantai sambil membawa Numbu Ranggata yang dikembalikan kepala suku kepadanya.
“Tak usah gentar”, kata si nenek kepada sang petani yang terlihat ragu.
“Sesungguhnya kaupun memiliki kesaktian sebagai pemilik Numbu Ranggata”, ujar si nenek pelan.
“Kau bisa mendatangkan petir dengan mengarahkan tombakmu ke langit”, lanjutnya lagi.
“Petir itu akan menyambar siapa saja yang menjadi lawanmu”.
Sang petani mendengarkan kata kata si nenek dengan seksama.
“Satu hal yang perlu kau ketahui”, si nenek berkata sambil memandang ke arah laut.
“Jurus andalan mereka adalah mengguncang bumi. Jangan panik jika bumi mengguncangmu. Diam saja dan menyatulah dengan bumi. Niscaya goncangannya akan segera berhenti”, lanjut si nenek membuka rahasia kepala suku.
Setelah mendengar penjelasan si nenek, petani itu yakin dirinya akan menang bertarung melawan kepala suku.
Ketika matahari mulai terbenam, ia berangkat menuju rumah kepala suku dengan membawa tombak saktinya.
Seluruh keluarga kepala suku telah berkumpul di lapangan belakang rumah mereka.
“Lawanlah putra sulungku”, kata kepala suku sambil berdiri menyambut kedatangan sang petani.
“Jika kau berhasil mengalahkannya maka itu berarti kau telah mengalahkanku”, katanya seraya menepuk nepuk pundak seorang pemuda yang berdiri di sampingnya.
Pertempuranpun dimulai. Setelah beradu kesaktian lewat perkelahian sengit, sang petani dan putra kepala suku sama sama tangguh.
Mereka telah bertempur selama dua jam lebih ketika akhirnya putra kepala suku menggunakan jurus andalannya.
Ia segera memejamkan mata, menunjuk bumi dengan kedua belah telapak tangannya dan seketika itu juga bumi tempat sang petani berdiri berguncang dengan hebatnya.
Sang petani teringat akan kata kata si nenek. Iapun segera berbaring sambil memegang Numbu Ranggata di tangan kanannya.
Matanya terpejam, ia membiarkan tubuhnya seolah olah menyatu dengan bumi. Sang petani merasakan bumi terbelah dan ia tertelan bumi.
Meski sedikit panik, ia terus memejamkan mata sambil menenangkan diri. Tubuhnya pelan-pelan mulai terbenam. Kepalanya terasa pusing dan perutnya mual akibat guncangan yang dasyat itu.
Timbul rasa takut dalam dirinya. Setelah setengah jam, si petani merasakan guncangan bumi mulai melemah. Napasnya normal, rasa pusing dan mualnya mulai hilang .
Cukup lama sang petani merasakan tubuhnya terguncang sebelum akhirnya guncangan itu semakin berkurang.
Kira kira satu jam kemudian sang petani mendapati dirinya berada dalam posisi terlentang di atas tanah tempatnya berdiri.
Sang petani bersyukur dirinya baik baik saja. Tak mau membuang waktu, sang petani segera mengarahkan tombak saktinya kearah langit malam.
Ia memusatkan perhatian pada ina Magholo-Ama Marawi dalam wujud Guntur-Kilat.
Tak lama kemudian petir menyambar nyambar membelah langit yang gelap. Sinarnya sungguh menyilaukan mata. Sebuah petir yang diikuti suara menggelegar menyambar tubuh pemuda lawannya.
Tubuh sang pemuda itu hangus terbakar. Seketika itu juga sang pemuda tewas. Kepala suku dan seluruh keluarganya memekik.
Mereka terkejut melihat kematian sang pemuda. Meski menahan kesedihan yang begitu mendalam, kepala suku berjiwa besar dan menerima kekalahannya.
Ia menyerahkan Watu Maladong yang sedari tadi dibawanya kepada sang petani. Kepala suku berkata; “Batu ini ada tiga buah. Dua buah berjenis kelamin pria, yang akan mencurahkan sumber makanan berupa padi, jagung. Satunya berjenis kelamin wanita, yang akan mencurahkan sumber makanan beupa jerawut. Ketiga batu ini dapat bergerak sendiri. Ia akan patuh kepada siapa yang ia layani. Kemunculannya di atas permukaan tanah Sumba kelak, akan menyemburtkan air tanah yang tak pernah berkesudahan.”
Sesuatu yang menakjubkan terjadi. Watu Maladong menjadi ringan di tangan si petani.
Sesuai yang mengisyaratkan bahwa Watu Maladong siap untuk melayani kebutuhan majikannya yang baru.
Akhirnya, Watu Maladong diboyong ke tanah Sumba, khususnya ke wilayah Sumba Barat (Sekarang Sumba Barat Daya), tempat asal si petani Sang petani yang membawa Numbu Ranggata dan Watu Maladong itupun singgah di rumah nenek yang telah menolongnya untuk pamit.
Ia memanjat pohon kelapa di depan rumah si nenek dan memanggil penyu yang segera datang untuk membawanya pulang kembali ke Sumba.
Setelah setelah berpamitan dengan nenek yang baik budi, Watu Maladong dibiarkan untuk berjalan sendiri mengikuti dia ke bibir pantai.
Timbullah kesulitan bagaimana cara membawa batu itu dalam posisinya di atas punggung penyu yang harus berpegang erat. Ia pun meminta ketiga batu itu menempuh jalan bawah laut.
Ketiga batu itu pun pelan-pelan terbenam ke bumi dan melenyap. Ketiga batu itu tiba terlebih dahulu dari si petani Sumba di pantai Katewel.
Atas permintaan si petani, ketiga batu segera menjelajahi wilayah baru itu untuk pengadaan sumber air.
Watu Maladong yang dibawa sang petani memberikan empat mata air di Sumba yaitu mata air Nyura Lele di Tambolaka, mata air Weetebula di Weetebula, mata air Wee Muu di perbatasan Wewewa Barat dan Wewewa Timur dan mata air Weekello Sawah di Wewewa Timur yang bentuknya menyerupai juluran lidah seekor naga.
Semuanya juga menumbuhkan padi, jagung, dan jewawut di tanah Sumba. Si petani sakti itu merasa cukup untuk pengadaan sumber air, ia pun meminta ketiga batu kembali.
Ketiga batu itu kemudian menelusuri pegunungan Yawilla kembali ke Wewewa Barat (Sekarang Wewewa Selatan) melalui Sungai Polapare yang bersumber dari mata air Weekello Sawah dan bermuara di daerah Bondo Kodi.
Di daerah ini ketiga batu itu melepaskan lelah. Ketiga batu itu memilih untuk menetap di wilayah ini. Batu yang menganugerahkan bibit jagung tinggal di darat, sedangkan dua batu yang alin, yang menganugerahkan bibit padi dan jerawut memilih tinggal di Samudra Hindia.
Demikian cerita rakyat legenda Pantai Watu Maladong dikutip selatsumba.com dari storyaboutsumba. Semoga bermanfaat.***
Tinggalkan Balasan