Miris, Meliput Aksi Warga Menolak Proyek Geotermal, Pemimpin Redaksi Floresa Diintimidasi dan Dianiaya Oknum Aparat
Mereka juga menyita tas yang di dalamnya berisi laptop dan kamera serta menyita ponsel saya.
Seorang anggota polisi yang sejak awal mencekik saya yang merampas ponsel. Ia juga berkata, “saya sudah memantau kau punya pergerakan selama ini.”
Usai berkali-kali memukul saya, mereka lalu memasukkan saya ke dalam sebuah mobil polisi dan mengunci pintunya. Para aparat itu berkata, “kamu diamankan, bukan ditahan atau ditangkap.”
Salah satu polisi yang melintas di luar mobil itu berkata, “kalau kamu menulis ‘berita yang lain,’ kami akan pantau.”
Di dalam mobil itu, terdapat seorang polisi yang mengenakan seragam.
Dia terus-terusan meminta ID card seraya memotong penjelasan saya.
Beberapa saat kemudian polisi itu keluar dari mobil dan seorang polisi lain yang tidak mengenakan seragam masuk ke mobil untuk menemani saya.
Beberapa saat kemudian, seorang polisi yang mencekik dan menyita ponsel saya masuk ke dalam mobil itu.
Dia menaruh tas saya dan menyuruh saya membuka ponsel.
Dia membaca dan memeriksa beberapa pesan WhatsApp saya. Dia mengakses pesan itu baik privat maupun grup. Dia juga memeriksa foto profil WhatsApp dari beberapa teman saya.
Dia juga menanyakan identitas beberapa teman dan warga yang mengirimkan pesan dan foto ke ponsel saya.
Dia juga membaca dan memeriksa pesan dari dua jurnalis yang menanyakan posisi dan keadaan saya.
Dia menyuruh saya membalas pesan dari salah satu jurnalis itu berdasarkan rumusan jawaban yang disusunnya.
Dia berkata, “jawab saja kalau kamu aman dan kamu diamankan karena tidak membawa kartu identitas.”
Dia juga menyuruh saya menjawab pesan itu dengan mengatakan, “saya lagi ganda [ngobrol] dengan polisi. Sebentar saya pulang.”
Saya membalas pesan itu dalam keadaan ponsel saya masih dipegang polisi itu. Dia hanya menyuruh saya mengetik jawaban.
Mereka juga memeriksa beberapa foto di dalam ponsel saya. Mereka menanyakan identitas beberapa orang yang di dalam foto itu serta menanyakan tempat foto itu diambil.
Mereka juga memeriksa beberapa foto yang menampilkan tiket perjalanan saya ke Jakarta. Mereka juga menanyakan tujuan saya pergi ke Jakarta.
Setelah memeriksa dan membaca pesan saya, polisi itu keluar dari mobil.
Beberapa saat kemudian, dia kembali masuk ke mobil itu dan kembali menanyakan kartu pers saya.
Saya sekali lagi menjawab “saya memang tidak membawa kartu pers, tetapi saya bisa menunjukkan surat tugas saya serta membuktikan kalau saya benar-benar merupakan Pemimpin Redaksi Floresa.”
Saya meminta izin kepadanya untuk memeriksa berkas surat tugas saya diponsel.
Lantaran berkat surat tugas itu telah dipindahkan ke dalam laptop, saya lalu meminta izin membuka laptop seraya meminta dia membuka web Floresa via ponsel untuk memeriksa dan memastikan status saya sebagai jurnalis sekaligus Pemimpin Redaksi Floresa.
Saat menunjukkan kepada salah satu polisi berkas surat tugas saya di laptop, dia mengecek sembari berkata “surat tugas ini hanya berlaku selama tiga bulan setelah diterbitkan pada September tahun lalu.”
Saya menjawab “ini surat tugas yang diterbitkan Pemimpin Redaksi Floresa periode sebelumnya saat saya berstatus sebagai kontributor.
Setelah masa berlakunya habis, saya tidak mempunyai surat tugas baru karena saya dipercayakan menjadi Pemimpin Redaksi Floresa. “Karena menjadi pemimpin redaksi, saya mempunyai kewenangan untuk membuat surat tugas bagi jurnalis Floresa yang lain.”
Untuk meyakinkan polisi itu, saya menunjukkan surat tugas yang saya berikan kepada jurnalis Floresa yang lain.
Di dalam surat itu, terdapat tanda tangan saya sebagai pemimpin redaksi.
Polisi itu memeriksa dan membuka beberapa berkas di dalamnya termasuk foto dan rekaman wawancara saya dengan narasumber.
Setelah melihat foto dan mendengar rekaman wawancara saya, polisi itu berkata, “kraeng [Anda] kerja macam intel.”
Merespons hal itu, saya berkata, “saya jurnalis, bukan intel.”
Polisi itu berkata, “saya akui kraeng seorang penulis karena kraeng sangat hati-hati memilih kata.”
Saya menduga polisi itu sebetulnya tahu bahwa saya merupakan jurnalis Floresa karena ia berkata, “saya tahu beberapa tulisan kraeng tentang proyek geotermal.”
Dia juga bertanya, “apa saja yang kraeng tulis tentang proyek geotermal di Poco Leok?”
Tinggalkan Balasan