Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Miris, Meliput Aksi Warga Menolak Proyek Geotermal, Pemimpin Redaksi Floresa Diintimidasi dan Dianiaya Oknum Aparat

Kronologi ini ditulis sendiri oleh Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut yang ditangkap polisi pada 2 Oktober saat meliput aksi protes warga Poco Leok menentang proyek geotermal.(Dok.Istimewa)

Saya menjawab, “salah satu tulisan saya adalah wawancara khusus dengan

seorang mama dari Poco Leok. Ite [Anda] bisa cek di web Floresa.”

Saya juga meminta polisi yang menyita ponsel saya untuk membuka web Floresa.

Dia menuruti permintaan itu dan menemukan bahwa “kraeng benar-benar merupakan Pemimpin Redaksi Floresa.”

Mendapati informasi itu, dia lalu membuat tangkapan layar atas identitas dan status saya yang tertera di web Floresa.

Setelah mendengar penjelasan dan melihat bukti yang saya tunjukkan, kedua polisi itu berkata, “kalau dari tadi dapat penjelasan seperti ini, kraeng tidak akan ditahan. Ternyata kraeng memang Pemimpin Redaksi Floresa.”

“Kami akan kena nanti kalau kraeng beri klarifikasi di Polres,” katanya, tanpa menjelaskan maksud pernyataan itu.

Merespons pernyataan itu, saya berkata, “saya dari tadi berusaha menjelaskan hal ini, tetapi kalian terus memotong pembicaraan saya. Kalian justru memukul saya.”

Mendengar hal itu, polisi yang menyita ponsel saya keluar dari mobil dan berkoordinasi dengan polisi lainnya.

Beberapa saat kemudian, dia kembali ke mobil itu dan menawarkan dua langkah untuk melepaskan saya.

Baca Juga  Survei Indikator NTT; Ansy Jane Berpeluang Menang, Siaga Tempel Ketat Melki Johni

Dia berkata, “sebentar tiga orang warga yang diamankan akan dilepaskan.

Mereka akan membuat video klarifikasi dan permohonan maaf karena merusakkan mobil polisi.

Apakah kraeng juga mau seperti itu? Ataukah kraeng mau klarifikasi di Polres?” Merespons pertanyaan itu, saya berkata, “saya pikir-pikir dulu.”

Mendengar jawaban itu, polisi tersebut keluar lagi dari mobil dan berkoordinasi dengan polisi lainnya.

Beberapa saat kemudian, polisi itu kembali masuk ke mobil dan menawarkan hal yang sama.

Dengan mempertimbangkan segala konsekuensi, saya pun memilih untuk langsung memberikan klarifikasi di lokasi itu.

Polisi itu berkata, “nanti kami akan rekam klasifikasinya kraeng. Nanti omong saja kalau kraeng diamankan karena tidak membawa kartu identitas. Terus nanti kraeng juga omong kalau kraeng sudah dilepaskan dalam keadaan selamat.”

Saya pun menyetujui permintaan itu, lalu polisi itu mengizinkan saya keluar dari mobil dan memberikan tas saya, sementara ponsel saya masih disita.

Saya memberi klarifikasi di belakang mobil itu dan direkam oleh dua orang polisi, yang salah satunya ikut mengintimidasi dan memukul saya.

Baca Juga  Polda NTT Angkat Bicara Soal Dua Oknum Anggota Polri di Sumba Barat yang Diduga Melakukan Pengeroyokan

Dalam klarifikasi itu, saya sempat mengatakan “saya ditahan karena tidak membawa kartu identitas.”

Mendengar itu, mereka meminta saya untuk mengganti kata “ditahan” dengan “diamankan.”

Mereka juga mengarahkan saya untuk mengatakan “setelah melakukan klarifikasi dengan polisi, saya dilepaskan dalam keadaan selamat.”

Tetapi, saya hanya mengatakan “setelah melakukan klarifikasi dengan polisi, saya dilepaskan.” Saya tidak mungkin mengatakan “dilepaskan dengan selamat” karena

sebelumnya saya dipukuli aparat dan wartawan. Setelah itu, mereka mengizinkan saya pulang, tetapi ponsel saya masih disita polisi.

Beberapa saat kemudian, saya kembali dan menemui polisi yang sejak penahanan menemani saya di dalam mobil. Polisi itu yang kemudian meminta untuk mengembalikan ponsel saya.

Saya mulai ditangkap aparat keamanan sekitar pukul 14.37 dan baru dilepaskan pukul 18.00 Wita.

Selama saya berada di dalam, polisi keluar-masuk meminta ID card dan tawaran langkah untuk melepaskan saya.***

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!