Penyediaan Bahan Baku MBG di SBD Masih Sangat Kurang
STORINTT – Program Makan Bergizi Gratis(MBG) di Kabupaten Sumba Barat Daya sudah berjalan sejak tahun 2025 silam.
Pada tahun 2026 ini, beberapa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi(SPPG) juga sudah beroperasi. Beberapa diantaranya masih tahap pembangunan.
Kehadiran dapur SPPG di wilayah ini pun dinilai dapat membantu meningkatkan ekonomi daerah. Apalagi, kebutuhan bahan baku diwajibkan membeli dari peternak dan petani lokal.
Namun demikian, ketersedian bahan baku di Pulau Sumba pada umumnya, khususnya di Sumba Barat Daya disebut belum mampu melayani dapur SPPG yang ada.
Seperti yang dialami oleh SPPG Mandiri Langgero yang di bawah naungan Yayasan Tana Manda Sumba.
Ketua Yayasan, Adam Mone mengakui bahwa suplai bahan baku dari petani dan peternak lokal di Sumba Barat Daya disebutnya masih sangat kurang.
Menurutnya, kekurangan bahan baku yang menjadi kebutuhan dapur bukan hanya terjadi Sumba Barat Daya, melainkan hampir 3 kabupaten lainnya.
“Bahan baku ini bukan hanya kurang di SBD, tapi pada umumnya di Pulau Sumba belum mampu menyediakan. Misalnya, beras, semangka, buncis, wortel, pisang mas, pepaya calivornia dan lain-lain itu stoknya masih sangat kurang karena setiap hari itu butuh stok yang banyak dalam melayani ruibuan penerima manfaat,” kata Adam Mone.
Menurutnya, dengan keterbatasan stok itu, pengadaan bahan baku terpaksa diadakan dari luar daerah dan tetap mengedepankan kualitas sesuai SOP.
Dari segi kualitas, ia mencontohkan semangka yang di tanam di wilayah wewewa tidak terlalu manis. Bahkan, terdapat banyak biji. Sehingga tidak bisa dipaksakan untuk dikonsumsi.
Sedangkan buncis, disebutnya sudah ada beberapa kelompok tani di Sumba Barat Daya yang menjamin kualitasnya. Ia mengingatkan supaya bahan baku yang hendak dijual dapat dipertahankan kualitasnya.
“Semangka itukan tidak boleh ada biji, merah yang bagus, manis. Semangka yang di kita ini kan belum yang kualitasnya seperti itu. Dan juga wortel di kita sini kecil-kecil berserat lagi, buncis beberapa sudah bagus, cuma terkadang juga sudah ada yang tua dicampur ketika dijual di dapur kami, itu tidak boleh karena itu rentan sekali, kadang ada ulatnya, makanya tidak boleh,” kata dia.
Dengan kehadiran dapur MBG ini, Adam berharap supaya masyarakat dapat memanfaatkan peluang tersebut.
“Tidak semua kita terimah. Kalau kualitasnya tidak sesuai standar, kita tolak. Dengan pelayanan terhadap ribuan ini tentunya kita penuh kehati-hatian dan kita pastikan sesuai SOP. Tapi selama ini ada yang datang jual dari jauh-jauh mau tidak mau kita beli, meski kita tidak manfaatkan sebagai menu makanan,” katanya lagi.***