Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Petani Persada Bernafas Lega, Ratusan Kilo Buncis Terserap SPPG Langgalero

Rian Marviriks Storintt.id
Fitri yang juga seorang guru honorer berkomitmen menjaga kualitas. Ia meyakini kalau kualitas inilah yang menjadi kunci keberlangsungan kemitraan.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT — Wajah cerah terpancar dari para petani buncis di wilayah Desa Kabali Dana, Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Mereka adalah anggota kelompok tani Persada.

Jika dulu mereka harus berjemur di bawah terik matahari berjam-jam di pasar Waimangura demi menjual hasil panen, kini mereka bisa tersenyum lega.

Setelah bertahun-tahun harus berjuang menjual hasil panen di pasar waimangura, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Langgalero menjadi angin segar yang menyelamatkan ekonomi mereka.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan SPPG Langgalero tidak hanya menyasar anak sekolah dan ibu hamil sebagai penerima manfaat, tetapi juga berhasil menciptakan rantai ekonomi baru yang memberdayakan petani lokal.

Untuk diketahui, Pihak SPPG Langgalero sendiri diketahui memang memprioritaskan bahan baku lokal dari petani sekitar untuk mendukung program MBG. Selain buncis, mereka juga menyerap sayuran dan bahan pangan lokal lainnya, sebagai wujud komitmen pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Salah seorang petani buncis, Fitri yang menjadi salah satu mitra SPPG Langgalero dari Kelompok Persada tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menceritakan pahitnya perjuangan bersama orang tua sebelum bermitra.

Kondisi tersebut membuat mereka hampir putus asa. Buncis merupakan tanaman yang tidak bisa disimpan lama. Jika tidak laku dalam sehari, kualitasnya akan menurun drastis dan harganya anjlok. Tidak jarang, hasil panen terpaksa dibuang atau diberikan ke ternak karena tidak ada pembeli.

Namun sejak hadirnya SPPG Langgalero, semua berubah total. SPPG yang berlokasi di Kelurahan Langgalero tersebut secara rutin menyerap hasil panen petani dalam jumlah besar, mencapai ratusan kilogram setiap minggunya untuk kebutuhan menu MBG.

“Puji Tuhan, sekarang SPPG Langgalero ambil ratusan kilo buncis kami. Kami tidak perlu lagi kepanasan di pasar. Petik pagi, siang langsung dijemput. Harganya jelas, pembayarannya jelas. Ini sangat membantu kami,” ungkap Fitri ketika ditemui dilahan buncis yang didampingi oleh orangtuanya.

“Sebelumnya kami bawa buncis ke pasar, duduk dari pagi sampai siang kepanasan. Kadang laku, kadang tidak. Bawa pulang lagi sudah layu. Lama-lama kami malas tanam buncis karena tidak ada pasar yang jelas dan menjanjikan,” ungkapnya lagi penuh haru.

Kini, cerita itu berubah. SPPG Langgalero secara rutin menyerap ratusan kilogram buncis segar langsung dari kebun petani dengan harga yang layak dan pasti. Kemitraan ini bukan sekadar soal jual beli. Bagi para petani, ini adalah penopang hidup.

Hasil dari buncis ini, disebutnya sangat membantu peningkatan pendapatan ekonomi keluarga. Misalnya, untuk biaya hidup sehari-hari, untuk biaya sekolah adik-adiknya, bahkan ada yang untuk biaya kuliah.

Ia pun menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada SPPG Langgalero yang telah membuka pintu kemitraan dan menghargai kerja keras petani lokal.

Fitri yang juga seorang guru honorer berkomitmen menjaga kualitas. Ia meyakini kalau kualitas inilah yang menjadi kunci keberlangsungan kemitraan.

Ia sadar, buncis yang mereka pasok akan dikonsumsi oleh anak-anak sekolah, sehingga kebersihan, kesegaran, dan kualitas harus menjadi prioritas utama.

“Harapan kami satu saja, SPPG Langgalero tetap jadikan kami mitra. Jangan tinggalkan kami. Kami janji, kualitas buncis akan tetap kami jaga. Yang segar-segar yang kami kasih, yang muda-muda, kami petik pagi-pagi biar masih segar. Biar anak-anak yang makan MBG juga dapat sayur yang bagus dan sehat,” pungkasnya.***

Tutup
error: Content is protected !!