Petani SBD Ditipu Oleh Oknum Masyarakat Sipil Yang Mengaku Dari Kementerian Pertanian: Gunakan Rompi Berlogo Pertanian
STORINTT – Ketua Kelompok Tani Usaha Baru, Desa Kadi Wano, Kecamatan Wewewa Timur, Anderias Bili Dappa mengaku mendapat kunjungan dari seorang oknum masyarakat sipil yang menyebut dirinya dari kementerian pertanian. Ia datang bersama ketiga orang lainnya dengan menggunakan mobil yang statusnya juga tidak diketahui.
Anehnya, kunjungan tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Bahkan, tidak ada dari pihak Pemerintah Sumba Barat Daya, termasuk pihak Dinas Pertanian yang turut mendampingi. Anderias merasa kecewa dengan giringan mereka yang hendak memutuskan komunikasi dengan pihak Dinas Pertanian Sumba Barat Daya, NTT.
Dengan SDM yang minim, Anderias mengakui bahwa dirinya telah tertipu dengan pengakuan oknum tersebut, sehingga dirinya harus berbicara apa adanya. Ia tidak pernah menyangka kalau yang datang mengunjunginya bukan orang kementerian pertanian.
Oknum tersebut juga mengaku kalau ia ditunjuk langsung oleh Presiden Prabowo untuk memonitor seluruh alsintan yang berada di seluruh Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ia meyakini petani tersebut dengan menunjukan berbagai rekaman video kegiatan dari kementerian pertanian.
Mendengar pengakuan tersebut, Anderias merasa bangga karena ada tim kementerian pertanian yang langsung mengunjungi kelompok tani Usaha Baru. Tanpa berpikir panjang lagi soal status keempat orang tersebut. Apalagi, seorang oknum tersebut itu menggunakan rompi berlogo kementerian pertanian dengan setelan rapi.
Selanjutnya, Anderias mengajak mereka masuk ke ruang tamu. Disaat itu, Anderias berinisiatif menyelempangi selembar kain adat yang dibeli dengan harga Rp125 ribu sebagai wujud penghargaannya kepada oknum petugas yang mengaku dari kementerian pertanian tersebut.
“Namanya kita petani ini pasti memiliki SDM yang kurang, setiap hari kami di kebun, jadi saya tidak pernah berpikir lagi. Mereka datang di rumahnya saya sebanyak tiga kali karena di hari pertama dan kedua itu saya sudah di kebun. Tapi mereka datang di hari ketiga baru berhasil bertemu dengan saya. Tidak ada informasi soal kunjungan, jadi saya tidak tahu betul. Mereka ada 4 orang pakai satu mobil. Kalau itu ibu pakai rompi berlogo kementerian pertanian. Karena saya merasa bangga, jadi saya slempangkan satu kain adat sudah,” kata Anderias ketika ditemui dikediamannya, Sabtu(05/09/2026).
“Dia itu mengaku dari kementerian pertanian, dan juga utusan Presiden Prabowo untuk monitor seluruh alsintan yang ada di Pulau Sumba. Dia tidak bilang dari LSM, atau organisasi mana pun, hanya bilang dari kementerian pertanian saja,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anderias menjelaskan, saat itu juga, oknum tersebut mulai menanyakan bantuan-bantuan dari Dinas Pertanian Sumba Barat Daya. Anderias menyampaikan kalau Kelompok Tani Usaha Baru sudah mendapat beberapa bantuan, termasuk combayen dan satu unit mesin giling padi yang dihibahkan secara langsung oleh Kementerian Pertanian kepada kelompok melalui Dinas Pertanian Sumba Barat Daya setelah dirinya mengikuti kegiatan Pekan Daerah Pekan Nasional(Peda Penas) beberapa tahun lalu.
Selanjutnya, Anderias juga menjelaskan soal status tractor roda empat. Ia mengakui kalau tractor roda empat tersebut diberikan karena permintaan dirinya sendiri, mengingat banyak lahan di Wewewa Timur yang membutuhkan tractor besar.
Saat meminta tractor roda empat, Anderias mendapat penjelasan kalau alsintan itu digunakan untuk mendatangkan Pendapatan Asli Daerah(PAD). Sebab, alsintan itu adalah aset Dinas Pertanian Sumba Barat Daya yang dihibahkan oleh Pemerintah Provinsi NTT.
Anderias bersedia dalam memenuhi persyaratan tersebut dengan menandatangani surat perjanjian kerja sewa alat tractor, terhitung sejak 13 Maret 2026 – 13 Maret 2027.
Sebagai wujud komitmen dalam mengelola tractor roda empat yang menjadi salah satu sumber PAD Dinas Pertanian Sumba Barat Daya itu, Anderias telah menyicil Rp8 juta. Sementara, sisanya akan dilunasi setelah masa kontrak.
Setelah mendengar penjelasan Anderias tentang PAD, oknum itu menyanggah dan mengatakan kalau bantuan pemerintah tidak bisa diperjualbelikan atau tidak ada PAD, karena menurut oknum itu bantuan pemerintah langsung dihibahkan ke setiap kelompok.
Padahal, tractor yang digunakan oleh Anderias adalah aset Dinas Pertanian Sumba Barat Daya yang akan dikelola untuk mendatangkan PAD.
“Ketika saya jelaskan begitu, ibu itu langsung bilang tidak dibenarkan, tidak ada bantuan pemerintah yang diperjualbelikan, tidak ada PAD, itu dihibahkan langsung ke kelompok. Jadi saya heran. Jadi saya juga ditanya apa yang menjadi keluhan, saya kasih tahu sudah untuk sampaikan di kementerian supaya kasih turun PAD dan bantu 1 combayen lagi. Dan juga saya titipkan salam untuk Presiden Prabowo,” ungkapnya.
Kedok oknum tersebut terungkap setelah Anderias mendapat informasi dari pegawai Dinas Pertanian Sumba Barat Daya yang mengatakan kalau yang datang mengunjungi kediamannya kala itu bukan dari Kementerian Pertanian. Disaat itu, Anderias langsung menelepon oknum tersebut.
Dengan tegas, melalui telepon, Andereas mempertanyakan soal pengakuan oknum tersebut. Anderias juga merasa terkejut ketika dalam pembicaraan via telepon, oknum itu menggunakan bahasa daerah. Sementara, selama berada di kediamannya, oknum tersebut tidak pernah menggunakan bahasa daerah.
“Pagi itu saya langsung telepon juga. Saya bilang kenapa ibu berniat mau putuskan komunikasi antara kelompok saya dengan pemerintah saya bilang. Saya kecewa sekali karena ibu mengaku dari kementerian pertanian dan utusan dari Presiden Prabowo. Saya pikir ibu dari kementerian betul dan utusan presiden, ternyata tidak. Berarti ibu sudah merusak mitra kerja kelompok kami dengan pemerintah selama ini, sementara selama ini, hubungan dinas dengan saya, baik. Terus dia langsung jawab pakai bahasa daerah, dia bilang bukan begitu na’a atau saudara. Disaat itu saya kaget dan saya tidak membayangkan kalau dia ini orang Sumba,” kata Anderias.
Dengan persoalan yang sempat menghebohkan masyarakat Sumba Barat Daya kala itu, Anderias dengan penuh kerendahan hati memohon maaf kepada Pemerintah Sumba Barat Daya, khususnya Dinas Pertanian.
Menurut Anderias, selama pertemuan itu, dirinya tidak menjelek-jelekan Pemerintah Sumba Barat Daya. Bahkan, ia mengaku bangga karena pemerintah terus memperhatikan kelompok dalam memenuhi kekurangan-kekurangan anggotanya.
“Saya justru berterima kasih kepada pemerintah. Kami merasakan betul bantuan-bantuan itu dan sangat membantu kami petani. Hanya karena kami masih butuh combayen, jadi kami minta tolong betu sama ibu itu yang mengaku dari kementerian pertanian. Jadi, saya memohon maaf atas sikap saya jika ada yang diplintir di luar sana,” ungkap Anderias.***