Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ruang Kosong Demokrasi Oleh Yeremias Bayoraya Kewuan

(Sebuah Catatan Demokrasi Kabupaten Sumba Barat Daya)

TIMEXNTT – Aristoteles pernah berujar, demokrasi bukan saja secara ideal sebagai sebuah kebebasan, tetapi merupakan sebuah kepercayaan (trust) dan tanggung jawab (responsibility).

Pada dasarnya, kebebasan yang termuat dalam kosa kata demokrasi merespon secara positif tentang sistem pemerintahan yang mengijinkan dan memberikan hak, kebebasan kepada warga negaranya untuk berpendapat serta turut serta dalam pengambilan keputusan di pemerintahan.

Pemahaman ini memberikan dorongan paling kuat bahwa rakyat memiliki hak dan kebebasan dalam bernegara yang dikonkretkan dalam bentuk tanggung jawab rakyat itu sendiri.

Artinya, konsep pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat merupakan bentuk pemberian kepercayaan (trust) diwujudnyatakan dalam tanggung jawab (responsibility) baik dalam pengelolaan pemerintahan, pembagian kekuasan, berpolitik, negosiasi, dan kapasitas peningkatan ekonomi, sosial, budaya, dan kesejahteraan semua orang.

Baca Juga  TOK! KPU SBD Menetapkan Tiga Calon Bupati Dan Wakil Bupati Menuju Pilkada Bulan November

Pesta Demokrasi

Dari trust dan responsibility ini, penyelenggaraan demokrasi seharusnya berimbang, karena demokrasi ada di tangan rakyat. Rakyat harus merayakan demokrasi layaknya sebuah pesta.

Pesta ini harus diselenggarakan secara cermat oleh penyelenggara untuk demokrasi yang utuh.

Oleh karena itu, orang-orang yang terjun dalam dunia politik dan pemerintahan seharusnya adalah orang-orang terpilih untuk mengatur alur pesta dengan tujuan akhir sebuah kedamaian, kebahagiaan, kesejahteraan, dan situasi layak tanpa diskriminasi.

Perayaan demokrasi harus penuh kepercayaan dan tanggung jawab memungkinkan untuk meminimalisir kecurangan, korupsi, kekerasan, diskriminasi, dan politik kepentingan.

Baca Juga  Mencari Figur Camat Wewewa Barat Yang "Peka" Dengan Pembangunan di 20 Desa: Membangun Desa, Menata Kota

Sayangnya, idealisme demokrasi ini gagal menjadi sebuah kenyataan. Jejak demokrasi Indonesia hari ini semakin parah dalam prosesnya.

Politik identitas dan manuver politik uang selalu mendominasi, masuk dalam berbagai kalangan bahkan tidak sanggup terbendung.

Para elite politik yang seharusnya memberikan edukasi berpolitik santun, menanggalkan etika politik yang berbasis pada demokrasi yang sesungguhnya, menepuk dada bak pahlawan agar menarik simpati karena ada kepentingan.

Indonesia sebagai negara demokrasi menjadi tercoreng karena orang terlalu jauh masuk dalam politik dengan berkendaraan agama.

Agama yang adalah ruang privasi dalam etika politik, diborgol masuk dalam ranah politik untuk memenangkan kepentingan dengan argument suci serta dipakai untuk mengintimidasi secara halus.

Politik Identitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!