Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Soal Isu Private Beach, Pemilik Hotel Mario Buka Suara: Saya Punya Niat Baik, Cegah Abrasi

Rian Marviriks Storintt.id
Menurutnya, tanggul sepanjang kurang lebih 30 meter itu dibangun dengan inisiatif dan biaya sendiri dengan niat baik untuk menata kawasan wisata.

STORINTT – Pemilik Hotel Mario, Aloysius Purwa, akhirnya buka suara terkait polemik pembangunan tanggul di kawasan Pantai Mananga Aba yang sempat dikhawatirkan masyarakat akan menjadi klaim private beach.

Aloysius menegaskan, pembangunan tanggul tersebut sama sekali bukan untuk membelah pantai apalagi menjadikannya pantai privat. Niatnya murni untuk menyelamatkan bibir pantai dari abrasi yang semakin parah dan menyelamatkan pohon keramat yang ada di lokasi tersebut.

“Yang kedua, saya dituding kalau nantinya akan menjadi private beach, nggak ada itu. Jadi saya maunya hanya karena pantainya sudah dimakan abrasi sepanjang 25 meter lebih, jadi saya ingin supaya jangan lebih jauh masuk ke dalam abrasinya,” tegas Aloysius Purwa, Kamis(22/10/2026) ketika dihubungi via telefon whatshap.

Ia menjelaskan, di bibir pantai tersebut terdapat pohon cemara yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Pohon yang diperkirakan berusia lebih dari 200 tahun itu kini kondisinya terancam karena abrasi.

“Persis di atas sana masih menjadi pinggiran laut sekarang yang seharusnya 10 tahun lalu pohon ini 25 meter lebih dari bibir air. Saya ingin selamatkan pohon ini yang usianya sudah 200 tahun lebih,” ujarnya.

Menurutnya, tanggul sepanjang kurang lebih 30 meter itu dibangun dengan inisiatif dan biaya sendiri dengan niat baik untuk menata kawasan wisata.

Ia berharap, dengan adanya tanggul tersebut, pasir yang biasanya terbawa arus saat angin besar dan air pasang di bulan Februari bisa tertahan dan terperangkap, sehingga ketinggian pantai bisa kembali seperti dulu.

Kondisi abrasi di Pantai Mananga Aba dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi perhatian serius. Selain faktor alam berupa gelombang pasang dan angin musim barat, aktivitas pengambilan pasir secara besar-besaran di sekitar kawasan tersebut yang mencapai ribuan truk juga diduga memperparah hilangnya bibir pantai.

Dampaknya, garis pantai terus mundur ke daratan dan mengancam keberadaan vegetasi pantai termasuk pohon-pohon tua yang selama ini menjadi penahan alami abrasi.

“Saya tanpa memikirkan lain-lain, tidak muncul soal izin harus koordinasi dengan yang lain, akhirnya dengan berpikiran baik saja saya ingin menata dan memperkuat sekitar tempat yang saya lakukan tanggul ini,” katanya.

Menanggapi kekhawatiran masyarakat bahwa pembangunan tanggul akan berujung pada klaim kepemilikan pantai oleh pihak hotel seperti yang terjadi di beberapa tempat lain di Sumba, Aloysius membantahnya dengan tegas.

“Itu adalah pembicaraan yang salah. Kalau datang ke pantai, antara pohon cemara yang saya bicarakan sampai ke tanah saya yang sudah ada temboknya itu lebih dari 30 meter itu pun terbuka semua. Masyarakat boleh masuk. Selama 15 tahun ini satu orang pun tidak pernah dihalang-halangi masuk ke sini, menjadi ruang publik,” jelasnya.

Ia menambahkan, berkat penataan yang dilakukannya, kawasan Pantai Mananga Aba kini justru semakin indah dan dikenal hingga mancanegara bahkan meraih predikat Traveler’s Choice.

“Sudah termasuk seluruh dunia mungkin kalau bukan saya tidak akan memperkenalkan tempat ini. Sekarang sudah mendapat predikat Traveler’s Choice,” ucapnya.

Ia mengaku sudah didatangi oleh pihak Kelautan Cabang Waingapu yang menjelaskan bahwa lokasi di depan Mario Beach memang masuk dalam zona pariwisata, sementara di kiri kanannya masih berstatus hutan lindung.

“Saya pikir kalau memang begitu kan bagus, tempat wisata kan harus ditata supaya wisatawan tertarik. Sekarang sudah sering orang bikin foto-foto di sana, karena tanggul ini persis adalah tempat yang bisa melihat sunrise dan sunset dari satu tempat yang sama. Ini tempat yang sangat bagus dan unik, di seluruh Sumba bahkan Indonesia pun jarang ada,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, titik lokasi tanggul tersebut memang memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki pantai lain di Sumba.

Dari satu titik yang sama, pengunjung dapat menyaksikan matahari terbit dan matahari terbenam secara sempurna. Keunikan inilah yang membuatnya terdorong untuk menata kawasan tersebut agar lebih estetik, aman dan nyaman bagi wisatawan maupun masyarakat lokal yang ingin berfoto dan menikmati keindahan pantai.

Ia juga menjelaskan soal pasir di halaman depan hotelnya yang sempat dipertanyakan. Menurutnya, pasir tersebut bukan diambil dari luar, melainkan pasir yang ada di lokasi yang ia garuk dan kembalikan ke atas karena sebelumnya tertutup batu.

“Dulu batu-batu ini berada di bawah pasir sampai ke air, sekarang sepanjang itu sudah hilang karena di kiri kanannya ribuan truk pasir diambil. Jadi pas air pasang, dia ngambil lagi sampai 25 atau 30 meter ke dalam. Itu yang saya coba tahan supaya bisa kembali lagi,” jelasnya.

Aloysius mengaku, pembangunan tanggul tersebut justru mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar karena memudahkan akses mereka untuk berjalan-jalan dan masuk ke laut.

“Masyarakat mendukung sekali adanya bangunan ini karena mereka juga gampang masuk ke laut. Mereka yang minta tunggu dulu jangan dibongkar, biar kita bicara dulu sama pemerintah,” pungkasnya.

Aloysius berharap polemik ini dapat diselesaikan dengan musyawarah bersama pemerintah dan masyarakat.

Ia menegaskan tidak memiliki kepentingan untuk menguasai pantai, melainkan hanya ingin menjaga kelestarian lingkungan dan menyelamatkan ikon wisata Pantai Mananga Aba agar tetap indah dan dapat dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.***

Tutup
error: Content is protected !!