Zero Waste Jadi Kunci! Unika Weetebula Ubah Mamar Kelapa Watu Kawula Jadi Sumber Ekonomi Baru
STORINTT – Tim Pelaksana Kosabangsa Universitas Katolik (Unika) Weetebula mendorong kemandirian ekonomi dan pangan masyarakat Desa Watu Kawula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Melalui Program Kosabangsa 2026 bertajuk “Hilirisasi Mamar Kelapa Berbasis Agroeduwisata melalui Sinergi Kelompok Tani dan Pokdarwis”, tim akademisi menggelar sosialisasi dan pelatihan intensif untuk mengoptimalkan komoditas lokal yang belum tergarap maksimal.
Program pengabdian masyarakat ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek melalui skema pendanaan Program Kosabangsa 2026, dengan pendampingan dari Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar.
Kegiatan ini melibatkan sinergi pemerintah desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta kelompok tani-ternak Desa Watu Kawula.
Sosialisasi menghadirkan tiga narasumber utama yang sekaligus menjadi tim pelaksana dan membedah rantai nilai pengolahan dari hulu ke hilir.
Materi pertama tentang Optimalisasi Komoditas Lokal dibawakan oleh Jeni Rambu Yaku Danga, M.P. Ia memaparkan potensi perkebunan kelapa serta komoditas umbi dan pisang di Desa Watu Kawula yang didorong menjadi produk bernilai jual tinggi.
Melalui teknologi tepat guna, daging kelapa diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) premium khas Sumba, sementara sisa panen diarahkan untuk memperkuat cadangan pangan keluarga.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Materi kedua tentang Hilirisasi dan Ekonomi Sirkular (Zero Waste) disampaikan oleh Karel Yesaya Mbaba, M.Si. Ia menekankan pengolahan limbah tanpa sisa buangan, di mana ampas kelapa, kulit singkong, dan gedebog pisang difermentasi selama 5–7 hari menggunakan bioaktivator EM4 dan tetes tebu.
Inovasi pakan ternak berprotein di atas 18 persen tersebut terbukti mampu memangkas biaya pakan babi dan ayam hingga 40–50 persen. Selain pakan, sisa material lainnya juga diolah menjadi pupuk kompos dan briket arang sehingga benar-benar menerapkan prinsip zero waste.
Sesi terakhir tentang Manajemen Pemasaran, Kemasan, dan Legalitas Usaha dibawakan oleh Dr. Yohanes Umbu Lede, M.Pd. Ia menekankan pentingnya standardisasi kemasan sebagai “wiraniaga diam” yang mampu melipatgandakan harga jual hingga 2–3 kali lipat, serta pentingnya kelengkapan label, izin edar P-IRT, sertifikasi halal, pendaftaran HKI merek dagang, hingga pemasaran digital melalui WhatsApp Business, media sosial, dan lokapasar.
Kepala Desa Watu Kawula, Laurensius Todo, menyambut positif program tersebut sebagai pijakan awal peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga.
Ia berharap masyarakat mitra sasaran proaktif mengikuti alih teknologi dan pendampingan lapangan hingga Desember 2026, sehingga cita-cita desa mandiri pangan dan ekonomi berbasis agroeduwisata dapat terwujud secara berkelanjutan.***