Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Anak Tukang Sensor Kayu Dari Wewewa Barat SBD Lulus TNI Angkatan Laut; Menepis stigma pungli

Bagaimana tidak, Zakarias mengakui bahwa proses anaknya dalam mengikuti seleksi sebagai TNI tidak menggunakan "orang dalam" atau uang untuk melancarkan proses seleksi.(Dokpri Rian Marviriks)

TIMEXNTT – Anak seorang tukang sensor kayu dari Desa Marokota, Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya(SBD), Nusa Tenggara Timur(NTT) lulus sebagai anggota TNI Angkatan Laut.

Tentunya, keberhasilan yang diraih anak tukang sensor, Zakarias Bobo telah menepis stigma buruk terhadap besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjadi seorang prajurit.

Bagaimana tidak, Zakarias mengakui bahwa proses anaknya dalam mengikuti seleksi sebagai TNI tidak menggunakan “orang dalam” atau uang untuk melancarkan proses seleksi.

Ia hanya menyediakan uang untuk kebutuhan administrasi dari awal berangkat hingga pada proses seleksi. Termasuk uang transportasi dari Sumba Barat Daya ke Kota Kupang, NTT.

“Awalnya kami hanya sediakan uang kapal untuk berangkat ikut tes di Kupang. Dan juga uang untuk melengkapi segala persyaratan,” ngaku Zakarias.

Zakarias merupakan seorang tukang sensor kayu. Ia bekerja sebagai penerima jasa sensor kayu. Sedangkan, pekerjaan itu sudah ditekuninya sejak 20 tahun silam.

Zakarias mengakui bahwa selama menerima jasa sensor kayu tidak pernah melayani tawaran untuk memotong kayu kawasan atau jenis kayu yang berada di lokasi hutan lindung.

Baca Juga  Meriahkan Karnaval, Kantor Pertanahan Sumba Tengah Sosialisasi Aplikasi Sentuh Tanahku

Baginya, bekerja sebagai tukang sensor kayu tidak pernah mencari keuntungan dari tempat yang akan berhubungan dengan hukum.

Hasil dari pekerjaan itulah yang ditabungnya untuk menyekolahkan keempat orang anaknya. Termasuk persiapan mewujudkan cita-cita putra keduanya untuk menjadi seorang prajurit TNI.

Ayah dari keempat orang anak itu meyakini bahwa dengan melibatkan pergumulan doa, segala bentuk usaha yang dilakukannya akan menuai hasil yang baik.

Benar saja, walau hanya sebagai tukang sensor, Zakarias sudah mewujudkan harapan dari salah satu anaknnya yang baru-baru ini telah dilantik sebagai prajurit TNI Angkatan Laut.

“Saya selalu berdoa untuk meminta Tuhan supaya segala usaha yang saya lakukan dapat berhasil. Saya hanya modalkan mesin sensor untuk mencari uang. Dan kalau tidak halal saya tidak akan layani. Maksud saya kalau ada yang minta sensor kayu kawasan saya tidak layani,” ucapnya.

Keberhasilan anaknya, Oland Junias Dendo Ngara menjadi seorang prajurit TNI Angkatan Laut tidak terlepas pula dari usahanya istri tercintanya.

Baca Juga  Tahap-Tahap Dalam Perkawinan Adat Sumba yang Perlu Kamu Tahu

Istri Zakarias juga bekerja sebagai seorang pengusaha minyak kelapa murni. Ia produksi minyak kelapa murni berbekal perlatan apa adanya.

Siapa menyangka, hasil tabungan dari sensor kayu dan minyak kelapa murni itu, Zakarias juga mampu melanjutkan perkuliahan putra sulungnya di salah satu kampus ternama di Pulau Dewata. Putra sulungnya itu Kuliah di Stikes jurusan Anistesi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun timexntt.id, sebagai mahasiswa Anistesi tidaklah mudah. Pasalnya membutuhkan biaya yang terbilng besar.

“Puji Tuhan, walau kedua anak saya bersamaan dalam berjuang, ada saja kemudahan yang Tuhan kasih. Sekarang, anak ketiga dan bungsu masih dibangku SMA. Oland sudah jadi Tentara, kami akan mengupayakan dan bekerja keras supaya saudaranya juga berhasil,” tuturnya Zakarias.

Hal luar biasa lainnya, ketika putra kedua mereka dilantik sebagai prajurit TNI Angkatan Laut, tidak ada pesta porah yang dilakukan. Mereka mensyukuri semua itu dengan kesederhanan.

Pasalnya, Zakarias harus menyekolahkan ketiga anak mereka yang tiga orang. Apalagi putra pertama mereka yang sedang kuliah sangat membutuhkan biaya yang besar.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!