Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Belanja Makanan dan Minuman Pada Sekretariat Daerah Sumba Barat Tembus Rp1,8 Miliar, Rehab Sekolah Hanya Rp234 Juta

Ruang rapat ber-AC dengan hidangan prasmanan melimpah tidak akan pernah melahirkan generasi emas jika di saat yang sama ada anak-anak yang belajar di bawah bayang-bayang atap sekolah yang hampir roboh. Sudah saatnya anggaran publik dikembalikan pada fungsi hakekatnya, mengabdi pada kepentingan rakyat banyak, bukan membiayai kenyamanan dan makan minum dalam birokrasi.(Dok.Ilustrasi)

STORINTT – Di balik gemerlap laporan keuangan daerah dan jargon “keberpihakan pada pendidikan,” sebuah realita memprihatinkan kerap tersembunyi dalam lembar-lembar Nota Keuangan dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

Fenomena di mana alokasi anggaran makanan dan minuman rapat pejabat melampaui dana rehabilitasi sarana dan prasarana sekolah menjadi preseden buruk yang terus berulang dalam tata kelola keuangan publik.

Ketimpangan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan nyata dari disorientasi skala prioritas pemangku kebijakan disebuah daerah.

Anggaran konsumsi sering kali menjadi instrumen penyerapan anggaran yang paling instan, namun memberikan dampak jangka panjang yang paling minim bagi masyarakat

Di sisi lain, potret dunia pendidikan di berbagai daerah masih diwarnai oleh ruang kelas yang lapuk, atap bocor, hingga fasilitas sanitasi sekolah yang jauh dari kata layak.

Ketika Belanja Operasional yang berdasar pada kenyamanan birokrasi mendominasi atas belanja modal untuk fasilitas publik, maka fungsi anggaran sebagai alat pemerataan dan pembangunan telah gagal diwujudkan.

Ruang rapat ber-AC dengan hidangan prasmanan melimpah tidak akan pernah melahirkan generasi emas jika di saat yang sama ada anak-anak yang belajar di bawah bayang-bayang atap sekolah yang hampir roboh. Sudah saatnya anggaran publik dikembalikan pada fungsi hakekatnya, mengabdi pada kepentingan rakyat banyak, bukan membiayai kenyamanan dan makan minum dalam birokrasi.

Seperti yang ditelusuri storintt.id pada 03 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur pada Sekretariat Daerah habiskan anggaran miliaran rupiah untuk belanja makanan dan minuman rapat, termasuk belanja makanan dan minuman jamuan tamu.

Alih-alih mendapat pemangkasan anggaran dari pusat, angka tersebut justru lebih besar dibandingkan pada alokasi anggaran untuk kebutuhan rehabilitas gedung sekolah yang seharusnya diprioritaskan.

Berdasarkan data yang dihimpun, pengadaan belanja makanan dan minuman rapat, termasuk makanan dan minuman jamuan tamu yang belanjakan beberapa kali sebesar Rp1.870.840.000. Paket tersebut diumumkan pada 09 Februari 2026.

Sayangnya, belanja makanan dan minuman lebih besar dibandingkan pada rehabilitas sekolah yang berada di wilayah itu. Benar saja, Rehabilitasi Ruang Kelas SMPN 5 Lamboya Rp234.943.300. Mirisnya lagi, rehabilitas sekolah pada tahun 2026 hanya dilakukan disekolah tersebut.***

Tutup
error: Content is protected !!