CAK MUNIR: Jangan Pernah Merasa Takut, Oleh Darius Beda Daton
Cak Munir adalah salah satu pengajar dalam pendidikan itu bersama Adnan Buyung Nasution, Luhut Pangaribuan, Jhonson Panjaitan, Ifdal Kasim, dan para dedengkot YLBHI dan LBH Jakarta seperti Patra M. Zen, Taufik Basari/Tobas, ulli Parulian, dan lain-lain.
Sesudah pendidikan Kalabahu, seingat saya, Cak Munir jatuh sakit dan diopname di RS Carolus Jakarta.
“Saya berkesempatan menjenguknya di RS. Saat itu cak Munir ditemani Al Araf, seorang aktivis muda Imparsial. Kini Al Araf adalah pengamat militer ternama di Indonesia”
Meski tubuhnya dipasangi banyak slang obat, Cak Munir tetap semangat dan sempat bertanya bagaimana khabar kawan-kawan di Kupang.
Setelah pertemuan di RS Carolus itu, saya tidak pernah bertemu Cak Munir lagi hingga kabar buruk itu datang. Ya tepatnya tanggal 7 September 2004. Cak Munir diduga dibunuh di atas langit Rumania.
Racun arsenik yang ditemukan dalam jus jeruk yang diminumnya di pesawat merenggut nyawanya ketika hendak ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Untuk mengenangnya kami bikin malam 1000 lilin untuknya di Kupang.
“Saya membuat beberapa poster dirinya dan dipajang di kantor sebagai pembakar semangat. Entah di mana poster-poster itu sekarang. Cak Munir orang baik. Pembela sejati para buruh kala itu”
Sampai-sampai sepeda motor Astra merah-nya yang hilang dicuri malah dikembalikan lagi oleh sang pencuri setelah tahu bahwa sepeda motor itu ternyata milik Cak Munir.
Tinggalkan Balasan