CAK MUNIR: Jangan Pernah Merasa Takut, Oleh Darius Beda Daton
TIMEXNTT, OPINI – Munir Said Thalib. Kerap disapa Cak Munir. Perawakannya kurus tinggi. Kulit putih, hidung mancung. Rambutnya sedikit pirang dan berkumis. Saya beruntung bisa mengenalnya walau cuma sebentar.
Perjumpaan dengannya sekitar tahun 2001. Saat itu saya aktif di LSM Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) di Kupang.
Cak Munir kala itu adalah Direktur LSM Imparsial dan beberapa kali mampir di kantor PIAR, jln. WJ Lalamentik.
“Saya beberapa kali mengikuti ceramahnya tentang HAM dan Demokrasi. Bicaranya sistematis dan selalu membeberkan data. Tanpa teks tapi kata-katanya mengalir teratur. Sebagai aktivis muda, saya mendengar ceramahnya tanpa banyak bertanya,”
Kagum, sungkan dan tidak berani bertanya. Lebih banyak mendengar dan mencatat pesan-pesannya.
Satu pesan yang tidak pernah saya lupa dari Cak Munir adalah ; “jangan pernah merasa takut. Sebab perasaan yang paling ditakuti adalah rasa takut itu sendiri”.
“Saya selalu ingat pesan ini ketika hendak naik pesawat karena saya memang takut naik pesawat. Satu tahun kemudian, sekitar tahun 2002, saya kembali bertemu dengannya di Jakarta”
Saat itu saya mengikuti pendidikan Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) di LBH Jakarta.
Cak Munir adalah salah satu pengajar dalam pendidikan itu bersama Adnan Buyung Nasution, Luhut Pangaribuan, Jhonson Panjaitan, Ifdal Kasim, dan para dedengkot YLBHI dan LBH Jakarta seperti Patra M. Zen, Taufik Basari/Tobas, ulli Parulian, dan lain-lain.
Sesudah pendidikan Kalabahu, seingat saya, Cak Munir jatuh sakit dan diopname di RS Carolus Jakarta.
“Saya berkesempatan menjenguknya di RS. Saat itu cak Munir ditemani Al Araf, seorang aktivis muda Imparsial. Kini Al Araf adalah pengamat militer ternama di Indonesia”
Meski tubuhnya dipasangi banyak slang obat, Cak Munir tetap semangat dan sempat bertanya bagaimana khabar kawan-kawan di Kupang.
Setelah pertemuan di RS Carolus itu, saya tidak pernah bertemu Cak Munir lagi hingga kabar buruk itu datang. Ya tepatnya tanggal 7 September 2004. Cak Munir diduga dibunuh di atas langit Rumania.
Racun arsenik yang ditemukan dalam jus jeruk yang diminumnya di pesawat merenggut nyawanya ketika hendak ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Untuk mengenangnya kami bikin malam 1000 lilin untuknya di Kupang.
“Saya membuat beberapa poster dirinya dan dipajang di kantor sebagai pembakar semangat. Entah di mana poster-poster itu sekarang. Cak Munir orang baik. Pembela sejati para buruh kala itu”
Sampai-sampai sepeda motor Astra merah-nya yang hilang dicuri malah dikembalikan lagi oleh sang pencuri setelah tahu bahwa sepeda motor itu ternyata milik Cak Munir.
Di kampung halamannya, Batu, Malang, Jawa Timur, dibangun museum cak Munir. Ibu Suciwati istrinya terus berjuang meminta negara mencari siapa pelaku utama pembunuhan suaminya.
Sebab yang dihukum saat itu hanya Policarpus, seorang pilot maskapai Garuda Indonesia. Selain itu tidak ada pelaku lain yang dihukum.
Hari ini genap 21 tahun Cak Munir berpulang. Saya menulis ini sebagai kenangan akan dirinya, seorang aktivis pemberani, pembela hak buruh hingga akhir hayatnya.
Cak Munir, terima kasih ya atas semua ilmu yang ditularkan kepada kami aktivis muda kala itu. Kami terus berikhtiar menjadi pembela bagi mereka yang hak-haknya terabaikan sebagaimana dirimu. Semoga kami mampu.***
Penulis: Kepala Ombudsman RI Perwakilan Nusa Tenggara Timur, Darius Beda Daton.
Tinggalkan Balasan