Danau Weekuri dan Kesepian yang Memikat Hati
TIMEXNTT – Hari libur lebaran memberi kami kesempatan untuk mencari suasana baru seusai menikmati keindahan pusat Kota Tambolaka yang tampak asri akhir-akhir ini.
Rasa jenuh dan bosan mengantarkan kami ke salah satu destinasi wisata di Sumba Barat Daya yang konon katanya ramai pengunjung di hari libur.
Saya dan beberapa rekan wartawan, diantaranya, Tribun Pos-Kupang, Victorynews, Lintas Sumba, NTTKreatif dan Galeri Sumba mulai bergegas dari pusat kota pukul 11.30 waktu setempat. Perjalanan ini kami lakukan pada hari Kamis, 03 Maret 2025.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami memastikan kendaraan yang ditumpangi sudah terisi BBM yang secukupnya. Pasalnya, tidak ada penjual BBM eceran di sana.
Kami mengendarai sepeda motor melewati jalur Pantai Utara(Pantura). Sepanjang perjalanan kami dihidangkan pemandangan yang bagi kami melahirkan inspirasi baru.
Hanya saja rumput liar sudah menjulang tinggi sehingga menutup pandangan mata dalam melihat indahnya Pantai Utara.
Di perjalan ini, tampak terlihat sejumlah warga lokal yang sedang melakukan aktivitas memanen jagung. Ada juga yang melakukan aktivitas membersihkan lahan kebun.
Selain itu, terlihat sekelompok hewan, sapi dan kerbau yang sedang ngerumput di pinggiran Pantai Utara. Tidak ada pengembala saat itu.
Dipertengahan jalan, tiba-tiba kami mendapati sejumlah ranting kayu dan rumput liar yang tergeletak dibahu jalan. Rekan saya sempat terkejut melihatnya.
Kami pun menurunkan laju kecepatan kendaraan hingga jarum speedometer menunjuk angka 20. Namun, tidak ada pengalaman buruk yang kami alami.
Mengingat kami harus menghadiri undangan peliputan di Arya Sumba Resort, kami melanjutkan perjalanan dengan penuh kehati-hatian. Syukurlah, kami tiba dengan selamat di Arya Sumba Resort dengan keadaan selamat.
Seusai melakukan peliputan di sana, kami langsung bergegas memutar arah menuju Danau Weekuri yang jaraknya tidak begitu jauh dari Arya Sumba Resort.
Kami kembali melalui jalur yang sama menuju Danau Weekuri yang berada di Desa Kalena Rongo, Kecamatan Kodi Utara.
Kurang lebih, pukul 14.15 waktu setempat kami tiba di Danau Weekuri. Kami memarkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan oleh petugas.
Danau Weekuri yang berwarna hijau kebiru-kebiruan ini seolah-olah menjemput kami dengan suasana yang penuh damai tanpa riakan-riakan pengunjung. Sepi dan memikat hati untuk betah lama-lama di sana dalam berimajinasi.
Laguna yang terbentuk dari air laut lepas yang berada di kisaran danau ini tampak sepi pengunjung. Tidak seperti pada hari-hari libur sebelumnya yang dipadati oleh pengunjung maupun pedagang lokal.
Tersembunyi dibalik pepohonan rimbun semakin menambah rasa kesepian dan sangat cocok buat kamu yang mau berimajinasi serta menghadirkan inspirasi terbarukan.
Dengan kesepian ini juga, kami pun secara bebas melakukan aktivitas menjelajahi keindahan dari ketinggian dengan menyusuri jalan setapak mengikuti bunyi deru ombak. Rasa penat yang sebelumnya menghantui telah terbayarkan.
Menariknya, sejumlah anak-anak juga menawari pengunjung lainnya untuk berswafoto dengan menaiki bukit karang yang menjorok ke laut lepas.
Menurut mereka, pengunjunga akan merasakan sensasi berbeda yang jauh lebih indah dari panorama keindahan danau Weekuri dari bukit batu karang ini.
Namun, pengunjung harus penuh ekstra hati-hati ketika meniti bebatuan karang karena cukup lancip dan tajam.
Kesepian Danau Weekuri ini semakin terasa ketika hanya terlihat beberapa pengunjung yang melakukan aktivitas berenang.
Setelah merasakan keindahan dari jembatan kayu yang dibangun di atas batu karang, kami pun memilih untuk meninggalkan tempat ini.
Sejuta pengalaman dari kesepian Danau Weekuri ini pun telah kami peroleh. Hingga pada akhirnya saya memutuskan bahwa kesepian Danau Weekuri pada hari itu benar-benar memikat hati.***
Tinggalkan Balasan