Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Jalan Usaha Tani di Webar SBD Disebut Tidak Bermanfaat, Warga Pertanyakan Anggaran 300 Juta

Padahal, sebelum penyerahan lahan, para petani dijanjikan pembuatan deker dan tembok penahan demi menjaga tanaman pertanian mereka.(Dok.Ilustrasi)

TIMEXNTT – Jalan usaha tani merupakan jalan yang dibangun untuk mempermudah aksesibilitas dan mobilitas alat mesin pertanian, sarana produksi, dan hasil pertanian.

Selain itu, jalan usaha tani juga menghubungkan lahan pertanian dengan jalan utama desa atau sumber daya pertanian.

Sebenarnya, dikutip dari berbagai sumber, jalan usaha tani dibangun oleh pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani serta memperlancar mobilitas alat dan mesin pertanian, mempermudah pengangkutan sarana produksi dan hasil pertanian, mengurangi ongkos produksi dan meningkatkan pendapatan petani.

Namun demikian, berbeda dengan jalan usaha tani yang berada di Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Bagaimana tidak, jalan usaha tani di desa itu malah dinilai tidak bermanfaat alias sulit dilalui oleh kendaraan roda empat maupun enam. Termasuk kendaraan roda dua dalam mengangkut hasil pertanian.

Jalan usaha tani yang dikabarkan telah dikerjakan pada tahun 2024 itu disebut menggunakan anggaran kurang lebih 300 juta rupiah. Tidak diketahui pula siapa yang mengerjakan jalan tersebut.

Baca Juga  Foto Harun Masiku Disebar di Sumba Barat Daya NTT

Mirisnya, selama pengerjaan jalan itu disebut pula tidak ada papan informasi yang dipasang guna mengetahui volume jalan maupun sumber dana yang digunakan.

Walau begitu, warga di desa itu menyebut sumber dana untuk pengerjaan jalan itu dikabarkan bersumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Sejumlah warga yang menghibahkan lahannya untuk pembukaan badan jalan pun merasa telah dirugikan. Sebab, hingga pada tahun 2025 ini jalan tersebut malah sulit diakses oleh kendaraan.

“Tidak ada oto yang berani masuk lewat jalan ini. Waktu penyiraman sirtu saja tidak berani masuk. Saat itu mereka siram kemudian eksa yang tarik ke arah bawah karena disitu jurang,” ungkap warga yang namanya diminta tidak diberitakan ketika menghubungi timexntt.id, Jumat(17/01/2025) kemarin.

Selain itu, beberapa petani yang memiliki lahan pertanian juga merasa ditipu karena tidak ada tembok penahan dan deker. Mereka juga mengeluhkan ketebalan sirtu yanh dinggap tidak bertahan pada musim penghujan.

Baca Juga  Soleman Natara: Saya Batal Kerja Sumur Bor di Kelompok itu

Padahal, sebelum penyerahan lahan, para petani dijanjikan pembuatan deker dan tembok penahan demi menjaga tanaman pertanian mereka.

“Tidak ada deker dan tembok penahan. Itu deker mereka pakai pipa besar yang dilapisi tanah sirtu,” kata seorang warga lainnya yang juga namanya enggan diberitakan.

Dengan keluhan itu, sejumlah warga yang telah mengghibahkan lahan dalam pengerjaan jalan sirtu itu mempertanyakan jumlah anggaran kurang lebih 300 juta yang digunakan dalam proyek tersebut.

Mereka juga meminta pihak yang memiliki kewenangan dalam melakukan audit atas pengerjaan jalan usaha tani tersebut.

Saat ini, timexntt.id masih melakukan penelusuran lebih lanjut atas proyek di desa itu hingga masih mengupayakan konfirmasi di Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!