Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Kapolres Sumba Barat Beri Ruang Keluarga Korban Untuk Melapor Oknum Polisi Yang Diduga Menyalahi Prosedur

Rian Marviriks Storintt.id
Yohanis kembali menegaskan, sebagai pimpinan, dirinya siap memproses sesuai ketentuan yang berlaku.

STORINTT – Kapolres Sumba Barat, AKBP Yohanis Nisa Pewali memberi ruang kepada keluarga korban penembakan, Jowa Tana atau JT untuk melapor oknum polisi yang diduga menyalahi prosedur ketika menjalankan tugas.

Ia menegaskan, Polres Sumba Barat siap memproses hukum oknum anggota tersebut yang diduga melakukan penembakan hingga menyebabkan Jowa Tana meninggal dunia.

Hal diatas disampaikan Kapolres Sumba Barat kepada wartawan, Rabu(16/09/2026). Yohanis kembali menegaskan, sebagai pimpinan, dirinya siap memproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Dikesempatan itu, Yohanis juga menjelaskan soal duduk perkara yang menyebabkan Jowa Tana meninggal dunia dalam insiden yang masih hangat diperbincangkan kalangan masyarakat hingga saat ini.

Menurut Yohanis, pihaknya terpaksa melakukan penembakan terhadap Jowa Tana karena melakukan perlawanan kepada anggota.

JT menggunakan sanjata tajam ketika anggota mau menangkap dirinya di kediamannya, Kampung Waimakapal, Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli pada 15 September 2026.

“Korban bersama dua teman lainnya yang sudah diamankan terdahulu diduga terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana pencurian ternak dengan kekerasan tanggal 21 Februari 2026 dan tanggal 5 September 2026,” kata Yohanis.

Pagi itu, kata Yohanis, tim anggota Polres Sumba Barat tiba dikediaman JT sekitar pukul 09.40. Di sana, kedua anggota langsung masuk ke rumah JT. Kemudian, JT yang menyadari kedatangan polisi, ia langsung mengambil sanjata tajam dan berusaha melakukan perlawanan terhadap anggota.

“Sehingga anggota yang tidak memegang senjata api langsung mundur,” tambah Yohanis.

JT merasa mempunyai kesempatan untuk melarikan diri ketika melihat anggota polisi sudah mundur. Namun, anggota lain yang juga sedang bertugas tetap melakukan pengejaran.

Selanjutnya, dalam proses pengejaran, anggota lain melepaskan tembakan peringatan sebanyak 3 kali. JT tetap lari tanpa mengindahkan peringatan tersebut.

Lebih lanjut, Yohanis klaim kalau anggotanya melakukan penembakan ke arah kaki JT, sayangnya disaat yang bersamaan, JT terjatuh sehinga tembakan tersebut mengenai bahu sebelah kanan JT.

“Pada saat itu, anggota kepolisian melakukan penembakan dengan tujuan melumpuhkan pelaku agar tidak dapat melarikan diri,” ungkap Yohanis.

Melihat JT yang terkena tembakan pada bahu bagian kanan, anggota langsung mengangkat dan melarikan ke pertolonga medis di Rumah Sakit Kristen Lende Moripa. Sayangnya, JT tidak tertolong atau meninggal dunia.

“Keluarga membawa jenasah korban Jowa Tana menuju Mapolres Sumba Barat untuk menuntut pertanggungjawaban Polres Sumba Barat. Sesuai kesepakatan bersama keluarga sebelumnya di rumah sakit Lende Moripa, bahwa keluarga membawa korban ke Mapolres Sumba Barat untuk menyampaikan tuntutannya dan setelah itu keluarga membawa pulang ke rumahnya di Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, Sumba Barat,” tambah Yohanis.

Namun demikian, ketika keluarga korban tiba di Mapolres Sumba Barat, masih kata Yohanis, terjadi perbedaan pendapat karena sebagian keluarga menolak membawa pulang dan memaksa masuk menempatkan jenasah korban di ruang lobi Polres Sumba Barat.

Suasanapun memanas hingga kaca pintu masuk ruangan lobi pecah. Saat bersamaan masa juga melempar kaca ruang SPKT, Reskrim SDM dan ruang Wakapolres.

Melihat suasana panas seperti itu, anggota polisi berusaha menghalau masa keluar Mapolres Sumba Barat.

“Pada saat masa keluar itu, mereka melempar kaca ruang provos, kaca ATM BRI, kaca rumah jabatan kapolres hingga kaca gedung Mall Pelayanan Publik yang terletak di depan Kantor Pengadilan Sumba Barat,” katanya lagi.

Suasana semakin tidak kondusif, massa juga membakar satu unit mobil patroli Polres Sumba Barat yang terparkir dipinggir jalan raya depan rumah sakit Lende Moripa. Kendaraan tersebut disediakan untuk mengantar jenasah ke rumah duka.

“Untuk mengendalikan masa, anggota kepolisian menyemprotkan gas air mata dan peluru hampa,” tambahnya.

Sebagai informasi tambahan, suasana mulai kondusif setelah pertemuan bersama seluruh keluarga korban di rumah jabatan Bupati Sumba Barat. Akhirnya, keluarga sepakat untuk membawa jasad korban ditengah-tengah keluarga.***

Tutup
error: Content is protected !!