Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Kepala Desa Weepangali; demi menghindari korban jiwa di dua kampung, saya minta maaf

Kepala Desa Weepangali, Kecamatan Kota Tambolaka, Fransiskus Umbu Geti mengakui tindakannya dalam memutuskan jaringan listrik menuju kampung Wanno Mema adalah salah.(Dokpri Rian Marviriks)

Dampaknya, beberapa alat elktronik mereka jadi korban. Bahkan, hampir setiap minggu mereka harus mengganti bola lampu listrik karena putus.

Jarak dari tiang induk ke rumah warga Pyamata yang menjadi titik pengambilan jaringan listrik menuju Kampung Wanno Mema adalah 380 meter.

Rumah warga Pyamata itu merupakan rumah paling ujung. Sedangkan jarak tiang induk ke Hendrikus Dawa Moto yang menjadi pemilik rumah pertama adalah 170 meter.

Baca Juga  Miris, Air Sudah Naik dan Dinikmati Masyarakat, Dinas Pertanian SBD Sebut Bermasalah, Ada Apa?

Jaringan listrik di Kampung Pyamata dimanfaatkan oleh 18 Kepala Keluarga, beberapa diantaranya masih nebeng arus tanpa menggunakan meteran. Sementara di Kampung Wanno Mema dimanfaatkan oleh 13 Kepala Keluarga.

Sebelum jaringan listrik ditarik ke Kampung Wanno Mema, awalnya disepakati bahwa warga Kampungg Wanno Mema diminta supaya hanya menggunakan 2 bola lampu listrik demi menjaga kelancaran penerangan pada malam hari.

Baca Juga  Bukan Rp82 Juta, Camat Kodi Bangedo Sebut Rp85 Juta, Kepala Desa Walla Ndimu Akui; saya pakai bantu

Namun, disebutkan bahwa warga Kampung Wanno Mema ada yang menggunakan dinamo air, kulkas, televisi dan alat elektornik lainnya. Hal inipun yang memicu warga Pyamata untuk melakukan pengeluhan lantaran tegangan arus listrik tak lagi stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!