Kepala Desa Weepangali; demi menghindari korban jiwa di dua kampung, saya minta maaf
TIMEXNTT – Kepala Desa Weepangali, Kecamatan Kota Tambolaka, Fransiskus Umbu Geti mengakui tindakannya dalam memutuskan jaringan listrik menuju kampung Wanno Mema adalah salah.
Fransiskus tidak menafikan bahwa tindakan itu telah melanggara aturan yang berlaku. Sebab, diakuinya pula, tugas itu merupakan kewenangan pihak PLN bukan dirinya sebagai seorang kepala desa.
“Yang saya lakukan kemarin itu memang benar salah. Saya meminta maaf dan siap bertanggungjawab,” ucap Fransiskus ketika ditemui sejumlah wartawan, Rabu(16/04/2025) malam tadi.
Awalnya, sebelum melakukan tindakan pemutusan jaringan listrik ke kampung Wanno Mema, ternyata sudah dilakukan beberapa tahap mediasi guna mendapatkan solusi bersama. Namun, hingga pada tahap mediasi yang terakhir pada tanggal 13 kemarin, tetap saja hal yang sama alias tak ada hasil.
Dalam mediasi itu, Fransiskus meminta warga dari kampung Wanno Mema supaya dapat swadaya pengadaan kabel listrik untuk ditarik langsung dari tiang induk. Pasalnya, warga di kampung Pyamata sering mengeluhkan soal tegangan arus listrik yang tidak stabil alias sponing.
Dampaknya, beberapa alat elktronik mereka jadi korban. Bahkan, hampir setiap minggu mereka harus mengganti bola lampu listrik karena putus.
Jarak dari tiang induk ke rumah warga Pyamata yang menjadi titik pengambilan jaringan listrik menuju Kampung Wanno Mema adalah 380 meter.
Rumah warga Pyamata itu merupakan rumah paling ujung. Sedangkan jarak tiang induk ke Hendrikus Dawa Moto yang menjadi pemilik rumah pertama adalah 170 meter.
Jaringan listrik di Kampung Pyamata dimanfaatkan oleh 18 Kepala Keluarga, beberapa diantaranya masih nebeng arus tanpa menggunakan meteran. Sementara di Kampung Wanno Mema dimanfaatkan oleh 13 Kepala Keluarga.
Sebelum jaringan listrik ditarik ke Kampung Wanno Mema, awalnya disepakati bahwa warga Kampungg Wanno Mema diminta supaya hanya menggunakan 2 bola lampu listrik demi menjaga kelancaran penerangan pada malam hari.
Namun, disebutkan bahwa warga Kampung Wanno Mema ada yang menggunakan dinamo air, kulkas, televisi dan alat elektornik lainnya. Hal inipun yang memicu warga Pyamata untuk melakukan pengeluhan lantaran tegangan arus listrik tak lagi stabil.
Ketika Fransiskus menawarkan untuk swadaya pengadaan kabel listrik guna mengambil langsung arus listrik ditiang induk, beberapa warga dari kampung Wanno Mema mengaku tidak memiliki sejumlah uang diminta.
Dengan kendala itu, Fransiskus pun menyampaikan kepada warga Kampung Wanno Mema bahwa dirinya bisa membantu mengurangi beban keuangan dengan Rp2.000.000. Tawaran Frasiskus itu juga tidak disepakati oleh warga dari Kampung Wanno Mema.
“Bahkan, saat itu ada pengertian baik lewat pertemuan kedua ditanggal 13 kemarin, saya juga tidak sampai hati untuk memutuskan itu(kabel). Saya masih ada solusi lainnya yang mana saya masih bantu itu uang Rp2 juta lalu saya bikanh yang lain kamu(warga Wanno Mema) swadaya,” kata Fransiskus.
Sayangnya, pasca mediasi dan hendak menuju ke rumah yang menjadi titik pengambilan jaringan listrik menuju Kampung Wanno Mema, Fransiskus kembali mendapat desakan dari warga Wanno Mema supaya kabel tersebut segera diputuskan.
Jika tidak, warga Wanno Mema nekat akan memutuskan sendiri kabel tersebut jika tidak dilakukan oleh kepala desa.
Ditempat itu, Fransiskus masih berupaya menenangkan warga Wanno Mema dan meminta mereka untuk menahan diri hingga menunggu pihak PLN.
Sebab, saat itu adalah hari minggu, sehingga ia kembali meminta supaya menunggu sambil menghubungi pihak PLN.
“Kalau memang kamu sudah begitu, tahan dulu, tidak masalah kalau kamu sudah sepakat untuk buka(kabel). Begitu saya turun dari bale-bale mau pergi di tempat yang bermasalah, mereka minta saya untuk panggil PLN untuk buka sekarang, kalau tidak buka sekarang maka kami akan naik sendiri untuk buka. Saya masih bilang, soal PLN jangan dibayar, tapi karena hari minggu ini hari jadi tunggu dulu, kapan ada waktu dari PLN saya akan lapor supaya datang,” tuturnya.
Dengan berbagai desakan itu, suasana semakin tidak kondusif dan Fransiskus menyebut terdapat sejumlah warga dari kampung Pyamata dan Wanno Mema hadir dengan membawa parang di lokasi tersebut.
Tak mau menimbulkan korban jiwa, Fransiskus langsung inisiatif naik di atap rumah salah satu warga Pyamata untuk memutuskan jaringan listrik menuju Kampung Wanno Mema. Saat itu, listrik sedang padam.
“Namun dalam perjalanan itu saya mengantisipasi supaya jangan ada pembunuhan, sekalipun yang saya lakukan itu salah, saya siap pertanggungjawabkan. Selaku kepala wilayah saya harus ambil tindakan supaya jangan ada korban,” kata Fransiskus.
“Tapi itupun ada desakan, kalau bapak desa tidak buka, kami akan naik sendiri, maka dari hati saya, daripada mereka(masyarakat) jadi korban, lebih baik saya sebagai kepala wilayah jadi korban demi dan untuk kenyamanan masyarakat,” tambahnya.***
Tinggalkan Balasan