Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Kepala Dinas Pertanian SBD Disemprot Oleh Petani Karena Dinilai Banyak Alasan: Bapak Tidak Konsisten

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya, Yohanis Frin Tuka disemprot oleh petani. Yohanis dinilai tidak konsisten dengan kesepakatan awal pada saat sosialisasi. (Dokpri.Rian Marviriks)

TIMEXNTT – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya, Yohanis Frin Tuka disemprot oleh petani. Yohanis dinilai tidak konsisten dengan kesepakatan awal pada saat sosialisasi.

Petani pertanyakan kesepakatan hasil sosialisasi yang mana, pencairan akan dilakukan secara kolektif. Artinya, jika ditemukan kelompok yang bermasalah, maka akan berdampak dikelompok lain.

Sayangnya, ketika 5 kelompok dianggap bermasalah oleh pihak dinas, pencairan di kelompok lain pun tetap dilakukan.

Hal ini pun yang memicu amarah petani semakin memuncak. Mereka menduga bahwa ada yang tidak beres di dinas tersebut.

Baca Juga  Kadis Pertanian SBD 'Bersilat Lidah' Dengan Kelompok Tani Hingga Salahkan Wartawan

Untuk diketahui, 5 kelompok yang dianggap bermasalah ini bukan karena tidak menyelesaikan pekerjaan sumur bor, melainkan diduga karena menggunakan merk pompa Grundfoz. Sedangkan kelompok yang menggunakan pompa merk Lorentz mulus-mulus saja melakukan pencairan.

Ketua Kelompok Ngindi Ate, Theodorus Bilhelus Reda Lete mengatakan, sesuai hasil kesepakatan awal pada saat sosialisasi, pihak dinas menyampaikan bahwa proses pencairan dilakukan secara kolektif.

“Pekerjaan dari DAK ini sistimnya 3 termin, itu hasil kesepakatan kita. Apabila ada satu kelompok yang bermasalah, maka semua tidak bisa melakukan pencairan,” kata Theodorus dihadapan Kepala Dinas Pertanian SBD belum lama ini.

Baca Juga  Usman Husin Bantu Alsintan di SBD, Lukas Cama; bentuk dukungan terhadap program daerah

Namun, pihak dinas dinilai tidak konsisten dengan penjelasan mereka. Sehingga, Theodorus meyakini bahwa ada permainan yang sengaja dilakukan dalam mempersulit 5 kelompok yang menggunakan pompa merk Grundfoz.

Ia juga pertanyakan, jika memang 5 kelompok dianggap bermasalah, pihak dinas tetap memberi rekomendasi terhadap kelompok-kelompok yang menggunakan pompa merk Lorentz.

“Kenapa dikelompok-kelompok lain bisa melakukan pencairan? Kenapa diberikan rekkmendasi? Kita harus konsisten dengan kesepakatan bersama. Bapak tidak konsisten,” tegas Theodorus dengan penuh tanya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!