Kodi Tidak Sendiri, Alumni GMNI SBD Hadir Bawa Sembako Untuk Korban Gempa
STORINTT – Di tengah masa transisi tanggap darurat gempa bumi Kodi, kepedulian dari keluarga besar Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumba Barat Daya menjadi bukti nyata semangat gotong royong dan nasionalisme.
Alumni GMNI SBD turun langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan sembako bagi keluarga terdampak gempa yang menyebar dibeberapa desa yang berada di Kecamatan Kodi Balaghar dan Kecamatan Kodi.
Sementara, bantuan yang disalurkan berupa 43 paket sembako. Masing-masing keluarga terdampak gempa mendapat 10 kilogram beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya.
Bantuan tersebut diserahkan secara langsung oleh pengurus DPC dan anggota Persatuan Alumni Sumba Barat Daya kepada warga terdampak.
Untuk diketahui, bantuan sembako tersebut merupakan bantuan dari DPD Persatuan Alumni NTT yang disalurkan oleh Alumni GMNI Sumba Barat Daya.
Ketua Persatuan Alumni GMNI Sumba Barat Daya, Marten Roga Ate menegaskan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan implementasi nyata dari ajaran Bung Karno tentang gotong royong dan jiwa Marhaenis yang selalu berpihak pada wong cilik.
“Tugas kemanusiaan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua yang terpanggil. Ketika saudara-saudara kita di Kodi menderita akibat gempa 4 Oktober lalu, kami sebagai Alumni GMNI tidak bisa tinggal diam. Inilah saatnya kita membuktikan bahwa nasionalisme itu adalah kerja nyata,” kata Marten Roga Ate, Sabtu(17/10/2026).
Menurutnya, GMNI sebagai organisasi kader yang berlandaskan ajaran Marhaenisme Bung Karno, selalu diajarkan untuk setia kepada penderitaan rakyat kecil. Gempa Kodi adalah penderitaan kita bersama.
Ia juga menyampaikan dengan penuh kerendahan hati bahwa bantuan yang diberikan mungkin secara jumlah tidak besar, namun memiliki makna yang sangat dalam karena lahir dari keterpanggilan hati nurani dan rasa solidaritas sebagai sesama anak Sumba Barat Daya.
“Kami tidak mampu memberikan yang lebih, tetapi apa yang kami beri itu datang dari keterpanggilan hati nurani untuk menolong saudara kita. Jangan lihat besar kecilnya bantuan, tapi lihatlah ketulusan kami. Kami memberi bukan karena kami berlebih, tapi karena kami peduli,” ujarnya di hadapan warga.
Pada kesempatan tersebut, Marten juga menyampaikan rasa prihatin dan duka yang mendalam atas bencana gempa bumi yang melanda Kecamatan Kodi dan sekitarnya.
“Kami menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas bencana yang melanda saudara-saudara kita di Kodi. Kami tahu, banyak rumah yang retak, roboh, banyak ibu-ibu dan anak-anak yang masih trauma. Kami merasakan apa yang mereka rasakan,” ungkapnya.
Ia berharap, bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban ekonomi warga di tengah masa pemulihan. Ia juga mengajak seluruh elemen alumni, organisasi kepemudaan, dan seluruh masyarakat Sumba Barat Daya untuk tidak lelah membantu Kodi.
“Ini bukan soal GMNI, ini soal kemanusiaan. Mari kita gotong royong. Kodi adalah kita, kita adalah Kodi. Jika Kodi terluka, kita semua terluka. Jika Kodi bangkit, kita semua bangkit,” tutupnya dengan pekik perjuangan khas GMNI.
Kehadiran Alumni GMNI SBD mendapat apresiasi langsung dari Pemerintah Kecamatan Kodi. Camat Kodi, Benyamin Kaka yang turut mendampingi penyaluran bantuan menyampaikan terima kasih atas kepedulian Alumni GMNI.
“Atas nama pemerintah Kecamatan Kodi dan seluruh masyarakat terdampak, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Alumni GMNI Sumba Barat Daya. Terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah peduli dan datang langsung melihat kondisi warga kami,” ujar Benyamin.
Menurut Benyamin, bantuan dari Alumni GMNI sangat berarti di tengah masa transisi tanggap darurat yang akan berakhir pada Minggu, 18 Oktober 2026. Di mana kebutuhan logistik warga masih tinggi.
“Di saat seperti ini, kehadiran kawan-kawan GMNI memberi semangat baru bagi warga kami bahwa mereka tidak sendiri. Bantuan ini akan sangat membantu keluarga-keluarga yang rumahnya rusak ringan, sedang dan berat. Sekali lagi terima kasih,” tutupnya.
Diketahui, gempa berkekuatan yang mengguncang Kodi pada 4 Oktober 2026 lalu masih menyisakan trauma mendalam.
Pemerintah Kabupaten SBD sendiri telah menetapkan masa tanggap darurat berakhir pada Minggu, 18 Oktober 2026 dan akan masuk masa transisi pada senin mendatang.
Di masa transisi ini, peran organisasi kemasyarakatan dan alumni seperti GMNI sangat vital untuk mengisi kekosongan logistik di lapangan.***