Live di Facebook Ngaku Wartawan, Wartawan TVRI dan Victorynews Angkat Bicara
TIMEXNTT – Masyarakat Sumba Barat Daya kembali dihebohkan dengan munculnya seorang oknum wartawan yang membuat gaduh.
Bagaimana tidak, oknum wartawan yang juga baru dipecat sebagai aparat Desa Denduka itu mendadak menuai kecaman.
Ia dikecam karena dinilai sudah menodahi kerja-kerja jurnalis yang wajib hukumnya taat dan patuh terhadap amanat kode etik jurnalistik.
Mirisnya, oknum wartawan itu hanya live pada platform media sosial pribadinya dalam menayangkan segala bentuk aktivitasnya. Padah ia mengaku sebagai wartawan media online.
Misalnya, pada salah satu dugaan pekerjaan rabat jalan yang diusutnya itu pun menuai sorotan. Ia melakukan live streaming di facebook pribadinya dengan menerangkan persoalan tersebut.
Kendati dinilai buat gaduh, sejumlah pihak turut berkomentar dalam menyikapi tindakannya itu. Termasuk wartawan senior di Sumba Barat Day, NTT.
Terkonfirmasi, wartawan TVRI NTT, Fredi Lady menyayangkan tindakn mantan aparat Desa Denduka, Kecamatan Wewewa Selatan itu yang sudah meresahkan masyarakat Sumba Barat Daya.
Menurutnya, tindakan yang dilakukan oknum wartawan dari Desa Denduka, Wewewa Selatan itu merupakan bentuk praktik yang mencederai kerja-kerja jurnalistik.
“Apa yang dilakukan Jeminikson Dappa oknum yang mengaku wartawan itu sungguh di luar praktik kerja jurnalis. Kita ini bukan Polisi, Jaksa, Hakim atau Pengacara. Sehingga tidak dibenarkan kalau menggunakan media sosial,” tegasnya dalam menyikapi tindakan oknum wartawan tersebut ketika dimintai tanggapannya, Senin(22/07/2024).
“Karena yang dilakukan di medsos itu bukan produk jurnalistik. Ingat pointnya berita media sosial tidak mencerminkan kode etik dan bukan produk jurnalistik. Saya melihat dia live di facebook seolah-olah dia penyidik, jaksa, atau hakim. Polisi harus memeriksa orang itu, jangan sampai dia menjadi dalang dan memprovosokasi warga, menyebar kebencian sehingga suasana di desa tempat ia tinggal menjadi tidak aman” tegasnya lagi.
Sebelumnya, sebagaimana diberitakan awal, wartawan victorynews.id, Frengky Keban mengatakan kalau kehadiran pihaknya untuk berkonsultasi terkait dugaan pencemaran nama baik di media sosial.
“Dugaan itu muncul setelah sebelumnya ada klarifikasi soal kejadian pengrusakkan jalan rabat di Desa Weewula Rabu lalu. Kami hadir untuk membantu meluruskan soal kerja media mengingat salah satu oknum yang mengatasnamakan wartawan disebut pasang badan untuk masalah ini padahal sebagai wartawan tugas kita adalah menulis,” katanya.
Dirinya mengatakan usai klarifikasi tersebut oknum JD kemudian menulis status yang mengarah kepadanya kendati di satu tidak menyebut nama.
“Iya tidak sebut nama tapi dilihat dari rentang waktu itu bertalian sekali apalagi di forum anggota polres sempat menyampaikan ke dia kalau ada wartawan senior di sini,” tambahnya.
Selain itu, katanya kehadiran mereka juga ingin mengadukan oknum yang mengatasnamakan wartawan JD yang selama ini terkesan memaksa sejumlah kasus yang ada di desanya.
Bahkan ketika aduannya itu tidak diterima, dirinya malah membuat siaran langsung untuk menyudutkan institusi mitra media seperti Kepolisian, TNI dan Kejaksaan.
“Selain institusi tadi. Beberapa dinas dan badan pun diketahui mengalami hal yang sama. Bahkan beberapa mengaku ke kami. Kami tidak mau profesi ini dilecehkan dengan kerja-kerja diluar kode etik. Bagaimana pun sebagai mitra tugas kita hanya menulis bukan memaksa orang untuk mengikuti apa yang jadi keinginan kita. Kami malu sebagai jurnalis ada oknum yang mengatasnamakan wartawan seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, Kanit Tipidter Satreskrim Polres SBD, Bripka Muhammad Nur di kesempatan tersebut memberikan apresiasi terhadap langkah yang diambil para Jurnalis Muda SBD.
“Terima kasih sudah datang. Kami akan cermati aduan teman-teman,” katanya.
Bukan hanya di Polres SBD, oknum wartawan tersebut juga dilaporkan ke Dewan Pers oleh komunitas wartawan Sumba Barat Daya, NTT.***
Tinggalkan Balasan