Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Mahasiswa Unika Weetebula Tanya Soal Gerakan, Prof Simon Sabon; Demo malah ditangkap polisi

Mersiani yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI) Sumba Barat Daya menanyakan itu karena banyak yang meragukan eksistensi mahasiswa dizaman sekarang ini.(Dokpri Rian Marviriks)

TIMEXNTT – Seorang Mahasiswa Universitas Katolik(Unika) Weetebula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Mersiani Umbu Kaleka menanyakan soal gerakan yang sering dilakukan oleh mahasiswa namun tak kunjung menuai realisasi atau perhatian dari pemerintah daerah.

Mersiani yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI) Sumba Barat Daya menanyakan itu karena banyak yang meragukan eksistensi mahasiswa dizaman sekarang ini.

Padahal, kata dia, peran mahasiswa dalam melakukan fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah sering dilakukan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat.

Namun, ia menyayangkan bahwa aksi-aksi mahasiswa tidak mendapat realisasi yang baik dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Menurutnya, jika masyarakat sejahtera dan praktik korupsi dihindari, maka akan berdampak pada meningkatnya Sumber Daya Manusia(SDM) dalam menyambut Indonesia Emas 2045.

“Nah, bagaimana kami sebagai mahasiswa berperan tetapi tidak mendapat dukungan pemerintah. Misalnya seperti yang disampaikan oleh Prof tadi yang berkaitan dengan mahasiswa. Selama ini mahasiswa sering demo tentang kemanusian, namun tidak pernah dijawab oleh pemerintah,” tanya Mersiani kepada Prof Simon Sabon dalam kegiatan Kuliah Umum sebagaimana dikutip timexntt.id dari chanel youtube Unika Weetebula, Kamis(19/12/2024).

Baca Juga  Pasukan Gerak Jalan Persit Kartika Chandra Kirana Kodim 1629 SBD Memantik Pandangan Warga

Mersiani juga menyoroti data dari World Competitiveness Year Book WCY 2022 yang di lakukan Institusi for Management Development(IMD) tentang indeks peningkatan Sumber Daya Manusia di Indonesia.

“Pada tahun 2021 Indonesia berada di peringkat 37, tahun 2022 berada di peringkat 44, tahun 2023 berada di peringkat 47 dan tahun 2024 berada di peringkat 46,” sebut Mersiani.

Menanggapi hal itu, Profesor Simon Sabon Olla memberikan apresiasi atas pernyataan dan pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh Mahasiswa Unika Weetebula, Mersiani.

Bahkan, Prof Simon menyebut banyak mahasiswa lainnya yang belum membaca data-data tersebut.

“Mungkin banyak dari teman-temanmu yang tidak baca. Tapi kalau saya cerita yang satu ini lebih parah. Indeks yang lain ya. Begini, kita bergerak maju, orang lain juga sedang bergerak maju. Indeks-indeks inikan perbandingan dengan Negara lain,” kata Prof Simon.

Baca Juga  IKMAN Sumbawa Salurkan Bantuan untuk Korban Erupsi Gunung Lewotobi Flores Timur

“Kadang-kadangkan kita berpikir seperti orang pedalaman di Afrika. Dia mau menari bawa persembahan ke altar itu, maju dua kali mundur tiga kali. Nah, kapan sampainya? Igu maju juga tapi tidak sampai-sampaikan? Ini sama dengan kita berjuang untuk menuju ke 2045 untuk menaikan semu indeks ekonomi, pendidikan,” katanya lagi.

Menurutnya, hingga saat ini, literasi dan nomirasi orang Indonesia masih sangat minim.

“Keterbacaan saja kecil sekali untuk orang Indonesia,” tambah Prof Simon.

Untuk itu, jika mahasiswa tidak bisa memberikan masukan secara formal kepada pemerintah, Prof Simon meminta mahasiswa supaya dapat berinovasi untuk diri sendiri dan masyarakat.

“Inikan besok tamat. Mau bilang rapat BEM BLM untuk ajukan protes inikan tidak bisa lagi, besok sudah ada di luar. Terus terang saja kalau sudah tidak jadi mahasiswa tidak ditakuti lagi. Demo malah kena tangkap Polisi di sana, di sel,” tuturnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!