Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Miris! Siswa SBD Keracunan MBG, Pihak Rumah Sakit Malah Tagih Biaya Administrasi di Sekolah

Puluhan siswa-siswi SMK Don Bosco di Kabupaten Sumba Barat Daya keracunan diduga karena menu makanan dari Program Makan Bergizi(MBG) yang disedikan oleh Dapur Sehat Omba Lunda.(Dokpri Rian Marviriks)

TIMEXNTT – Puluhan siswa-siswi SMK Don Bosco di Kabupaten Sumba Barat Daya keracunan diduga karena menu makanan dari Program Makan Bergizi(MBG) yang disedikan oleh Dapur Sehat Omba Lunda.

Siswa-siswi diketahui keracunan makanan seusai mengkonsumsi makanan yang didistribusikan. Pada saat kejadian, pihak pendistribusi MBG belum mengunjungi sekolah tersebut.

Mirisnya lagi, setelah melakukan penanganan, pihak rumah sakit malah kirim surat penagihan biaya administrasi ke sekolah.

Wakil Kepala Sekolah SMK Don Bosco, Bruder Alfridus Tena merasa terkejut ketika menerima tagihan dari rumah sakit Karitas Weetebula ketika siswa-siswi dikeluarkan.

Menurutnya, keracunan yang dialami oleh siswa-siswi bukan karena mengkonsumsi makanan yang disediakan oleh sekolah, melainkan dari program Makan Bergizi Gratis(MBG) yang didistribusi oleh dapur Sehat Omba Lunda. Apalagi, ini program Pemerintah.

Dengan begitu, ia menyebut bahwa penagihan biaya rumah sakit semestinya dialamatkan ke pihak yang lebih bertanggungjawab.

Surat penagihan itu ia terima ketika 4 siswa yang dirawat di rumah sakit Karitas Weetebula dikeluarkan.

Baca Juga  6 Dokter Spesialis Tiba di Sumba Barat Daya, Ada Dokter Penyakit Dalam dan Saraf

Menurutnya, setelah siswa-siswi yang mendapat perawatan dikeluarkan, hanya rumah sakit Karitas Weetebula yang mengirim surat penagihan biaya. Sedangkan dari Puskesmas Rada Mata dan RSUD Reda Bolo tidak ada penagihan.

“Sekarang kan mereka minta biaya, saya bingung. Ini program Pemerintah, mau ambil biaya dari mana? Kita buat surat pernyataan, nanti ini mungkin kita kasih ke Karitas, mungkin nanti karitas hubungi Pemda. Karena tadi saya baru dapat surat tagihan dari sana, saya akan kontak ke pihak yang bertanggung jawab untuk membayar biaya di sana, saya tidak tahu biayanya bagaimana, karena memang itu bukan kesalahan kami,” tegas Bruder Alfridus, Kamis(24/7/2025).

Sementara itu, Kepala Ombudsman NTT Darius Beda Daton menyesalkan kejadian tersebut.

Ia menegaskan, korban harus segera mendapatkan penanganan medis dan pemerintah wajib bertanggung jawab.

Pasalnya, program ini merupakan program Pemerintah dan menggunakan APBN.

Baca Juga  Kadis Pertanian SBD 'Bersilat Lidah' Dengan Kelompok Tani Hingga Salahkan Wartawan

“Pemerintah tidak boleh abai terhadap dampak langsung yang terjadi di lapangan. Sebagai lembaga negara pengawas pelayanan publik, Ombudsman RI akan terus memantau dan memberikan saran perbaikan terhadap pelaksanaan MBG,” katanya lagi, Jumat(25/07/2025).

Sebelumnya, Kepala SPPG Dapur Sehat Omba Lunda, Christiani Candarditia Rezki Lete Boro, pihaknya bertanggung jawab penuh terhadap siswa-siswi yang kercanunan.

Berdasarkan data yang diperolehnya, ada 65 siswa yang tercatat keracunan ketika mengkonsumsi makanan yang didistribusi oleh Dapur Sehat Omba Lunda.

Sebagai wujud tanggung jawab, Christian menyebut dirinya sebagai jaminan bagi siswa-siswi yang sedang ditangani pihak rumah sakit jika membutuhkan biaya perawatan. Hal ini juga diakuinya telah dikonfirmasi dengan pihak sekolah.

“Inikan anak-anak baru selesai konsumi kita punya makanan, jadi ketika itu terjadi, bukti tanggung jawab kita, ketika sekolah menghubungi kami kemarin itu, saya langsung ke rumah sakit karitas,” kata Christian, Kamis(24/07/2025).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!