Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

PAD Dinas Pertanian SBD Dari 18 Alsintan Rp173 Juta, Target Rp400 Juta Tahun 2026

Rian Marviriks Storintt.id
Peningkatan PAD tahun ini disebut sebagai salah satu upaya strategis Pemerintah Sumba Barat Daya melalui Dinas Pertanian dalam memperkuat kemandirian fiskal dengan mengoptimalisasikan alsintan yang ada.(Dokpri Rian Marviriks)

STORINTT – Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya menargetkan Pendapatan Asli Daerah(PAD) pada tahun 2026 Rp400 juta. Target tersebut lebih meningkat dibandingkan PAD pada tahun 2025 yang berkisar di angka Rp100 juta.

Peningkatan PAD tahun ini disebut sebagai salah satu upaya strategis Pemerintah Sumba Barat Daya melalui Dinas Pertanian dalam memperkuat kemandirian fiskal dengan mengoptimalisasikan alsintan yang ada.

Sementara salah satu potensi sumber PAD yang dikembangkan oleh Dinas Pertanian SBD adalah melalui pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan).

Saat ini, Dinas Pertanian SBD memiliki 25 unit alsintan, 18 diantaranya sedang beroperasi dan sudah menghasilkan pendapatan kurang lebih Rp173 juta hingga pada bulan ini. Dinas Pertanian SBD tetap optimis kalau target PAD pada tahun ini tetap tercapai.

Kepala Dinas Pertanian SBD, Yohanis Frin Tuka mengatakan, alsintan yang selama ini berfungsi sebagai sarana peningkatan produktivitas pertanian dapat dioptimalkan menjadi aset produktif yang menghasilkan pendapatan bagi daerah.

“Saat ini ada 18 unit alsintan yang sedang beroperasi. Diantaranya 12 unit tractor dan 6 combaen. Dampaknya, telah menyumbangkan PAD kurang lebih Rp173 juta hingga pada bulan ini. Target kita tahun ini Rp400 juta karena alsintan kita juga semakin bertambah. Kalau 2025 itu kita PAD capai 100 persen, yakni Rp100 juta, tahun ini kita tingkatkan lagi,” kata Yohanis yang kerap disapa Frin Tuka itu, Kamis(04/06/2026).

Menurutnya, 18 unit alsintan yang sedang beroperasi itu dikelola oleh kelompok, juga bisa perorangan. Sedangkan, sesuai dengan Peraturana Daerah(Perda), petani menyewakan alsintan tersebut dengan harga terjangkau.

Ia menyebut, khusus untuk tracktor, dapat disewakan dengan harga Rp10 ribu per-are. Sementara, mesin combaen Rp20 ribu per-are.

Dalam proses itu, penyewa dibebankan untuk menanggung bahan bakar minyak, termasuk kerusakan ringan terhadap mesin yang digunakan.

“Kalau rusak berat itu tanggung jawab pemerintah dengan menggunakan PAD yang masuk,” katanya lagi.

Menurutnya, petani juga menyambut baik dengan sistim tersebut. Mereka, kata dia, mengaku merasa terbantukan. Bahkan, ada petani yang mengaku kalau kehadiran alsintan besar itu lebih hemat anggaran dibandingkan menggunakan tenaga manusa.

“Kan selama ini sangat manual, bergotong royong, tentunya membutuhkan anggaran makan minum. Nah, ketika kita punya mesin besar, mereka sewa. Misalnya, mesin combaen, kalau lahannya kering bagus itu kurang lebih satu jam sudah habis panen dan bisa langsung di isi dalam karung. Banyak pengakuan petani-petani kita, mereka dukung dan sambut dengan baik,” kata Frin Tuka.***

Tutup
error: Content is protected !!