Pemerintah Desa di Kecamatan Loura Diminta Pastikan Akurasi Data Stunting, Bukan Sekedar Administratif
TIMEXNTT – Pemerintah desa se Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya diminta supaya memastikan akurasi data stunting. Hal itu perlu dilakukan supaya intervensi dana desa untuk pemanfaatan penanganan stunting dapat tepat sasaran.
Selain itu, petiap desa juga diwajibkan memastikan pemuktahiran data melalui pendataan rutin, pemantauan tumbuh kembang, serta pelaporan terpadu yang terkoordinasi dengan Puskesmas dan Dinas Kesehatan.
Hal di atas disampaikan oleh Plt Asisten II Sumba Barat Daya, Enos Eka Dede sebelum membukan kegiatan pramusrembang di Kecamatan Loura, Jumat(21/11/2015).
Kegiatan pramusrembang ini dinilai sebagai bagian terpenting dalam rangkaian proses perencanaan pembangunan daerah. Termasuk perencanaan penggunaan dana desa.
“Ini adalah forum untuk menghimpun masukan, menyelaraskan program dan memastikan bahwa arah pembangunan kita tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga memenuhi kebutuhan nyata masyarakat dibakar rumput,” kata Enos Eka Dede.
Kepala Dinas Linkungan Hidup itu menuturkan, dalam kegiatan pramusrembang di Kecamatan Loura akan fokus pada pembahasan terhadap isu penurunan stunting.
Sebab, kata dia, persoalan stunting ini menyangkut masa depan generasi Sumba Barat Daya.
Menurutnya, stunting bukan sekedar persoalan kesehatan, tetapi masalah multidimensi yang berkaitan dengan pendidikan, sanitasi, ekonomi, keluarga, pola asuh, bahkan budaya.
“Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki perkembangan kognitif yang terhambat, produktivitas rendah, serta peluang kontribusi ekonomi yang menurun ketika dewasa,” tambahnya.
Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terintegrasu, lintas sektor dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah hingga unit terkecil di tingkat desa.
Untuk itu, ia menegaskan kembali bahwa pemerintah daerah telah menempatkan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu prioritas strategis.
Namun keberhasilan program ini tidak akan tercapai tanpa dukungan penuh dari seluruh masyarakat, khususnya para tenaga lapangan, seperti kader posyandu, KPM Desa, bidan, tenaga gizi, serta perangkat desa setiap hari kerja langsung dengan keluarga berisiko.
“Kepada saudara-saudara semua, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan pengabdian tanpa letih demi masa depan anak-anak kita,” tuturnya.
Melalui forum ini, dirinya menyampaikan beberapa penekanan sebagai arah kebijakan, yakni, penguatan akurasi data stunting, artinya data yang tepat akan menghasilkan intervensi yang tepat pula.
Optimalisasi intervensi spesifik seperti pemberian gizi, pemeriksaan kehamilan, dan imunisasi harus beriringan dengan intervensi sensitif seperti sanitasi, air bersih, akses pendidikan PAUD, hingga program ketahanan pangan keluarga.
“Pemanfaatan dana desa untuk penanganan stunting, pemerintah desa agar memastikan alokasi anggaran sesuai ketentuan, baik untuk kegiatan posyandu, edukasi gizi. Pemberdayaan ekonomi, maupun dukungan bagi rumah tangga berisiko,” katanya lagi.
Selain itu, ia juga menekankan penguatan koordinaai lintas sektor. Pasalnya, upaya penurunan stunting disebutnya membutuhkan peran aktif seluruh OPD. Koordinasi ini harus nyata di lapangan, bukan sekedar administratif.
Kemudian, peningkatan komunikasi perubahan perilaku. Edukasi kepada masyarakat harus masif, terarah, dan berkelanjutan, karena perubahan perilaku adalah kunci utama keberhasilan.
“Kecamatan loura memiliki potensi besar untuk menjadi contoh dalam percepatan penurunan stunting di sumba barat daya. Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, lembaga keagamaan, dan seluruh mitra pembangunan, saya yakin kita mampu menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif,” kata Enos penuh yakin.
Dikesempatan itu, ia mengajak semua pihak untuk menjadikan forum pramusrenbang tematik stunting ini sebagai wadah dialog terbuka, wadah evaluasi, dan wadah komitmen bersama demi masa depan anak-anak Sumba Barat Daya, NTT.
Ia juga berharap supaya melangkah dengan satu tujuan dalam membangun Sumba Barat Daya yang lebih maju dan lebih manusiawi, dimulai dari pastikan tidak ada anak yang tumbuh dalam kondisi stunting.
“Tentunya, mari kita bergandengan tangan bersama, bersinergi secara positif mulai dari tingkat desa, stakeholder hingga pemerintah kabupaten untuk memujudkan sumba barat daya hebat yang berkarakter, sehat, cerdas, berketahanan pangan dan berbudaya, menyongsong indonesia emas 2045,” pintahnya.***
Tinggalkan Balasan