Pemerintah Sumba Barat Daya Mendorong Pengusulan Kampung Manola Sebagai Cagar Budaya
TIMEXNTT – Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya menegaskan komitmennya tentang pengusulan Kampung Manola di Desa Tenateke, Wewewa Selatan menjadi cagar budaya.
Komitmen ini ditegaskan oleh Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla, Selasa(25/11/2025) sebelum membukan festival budaya dan meresmikan bangunan baru rumah adat yang direvitalisasi pasca kebakaran.
Bupati Ratu Wulla mengatakan, festival budaya yang diselenggarakan di Kampung Manola ini menjadi bagian dari ikthiar pemerintah menuju indonesia emas 2045.
Ia menyadari bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan teknologi, tetapi juga oleh ketangguhan identitas budaya.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya menegaskan komitmen untuk melanjutkan revitalisasi rumah adat manola melalui pengajuan proposal pembangunan 20 rumah adat pada tahun 2026.
Selanjutnya, mendorong pengusulan kampung manola sebagai benda cagar budaya dan memperkuat ekonomi kreatif berbasis tenun dan pewarna alam, serta menyediakan ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk menjadi pewaris tradisi.
“Sumba, melalui komunitas adatnya, telah memberikan teladan bahwa budaya adalah sumber daya strategis untuk pembangunan nasional berkelanjutan,” kata Bupati Ratu Wulla.
Lebih lanjut, Bupati Ratu Wulla menyebut tema yang diangkat dalam festival budaya di Kampung Manola “papan, sandang, pangan dalam keberlanjutan tradisi masyarakat manola” sebagai ruang bersama untuk meneguhkan tiga pikar utama kehidupan masyarakat Sumba, khususnya masyarakat Sumba Barat Daya, NTT.
Menurutnya, ketiga unsur itu yang membentuk identitas, nilai, dan praktik kehidupan orang sumba. Melalui festival ini, disebutnya lagi, akan melakukan banyak hal penting. Diantaranya, menghidupkan kembali ritual adat peresmian rumah adat.
Mengadakan diskusi publik dengan para tokoh adat, arsitek, dan akademisi untuk memperkuat pengetahuan lokal. Menyelenggarakan workshop pewarna alam krersama warlami untuk memperkuat tradisi tenun. Menampilkan tari, musik, dan pertunjukan seni tradisional.
Menyajikan pangan lokal sebagai wujud kemandirian dan kearifan sumba. Menyuguhkan pameran foto yang merekam kerja kolektif dan semangat pemulihan masyarakat manola.
“Keseluruhan rangkaian ini adalah langkah terpadu untuk memulihkan warisan budaya takbenda, menghidupkan ruang komunitas, dan meneguhkan komitmen kita terhadap pelestarian tradisi,” tambahnya.***
Tinggalkan Balasan