Pemilik Tanah di Desa Susu Wendewa Desak Polres Sumba Barat Tangkap Pelaku Penyerangan
TIMEXNTT – Pemilik tanah warisan di Desa Susu Wendewa, Kecamatan Mamboro, Sumba Tengah mendesak Polres Sumba Barat menangkap sekelompok orang tak dikenal yang melakukan penyerangan.
Penyerangan dilakukan ketika pemilik tanah dengan luas kurang lebih ribuan hektar hendak memasang patok batas tanah. Pemasangan batas tanah dilakukan untuk menghindari konflik sebelum penggarapan lahan berlangsung.
Yulius Umbu Sunga yang juga sebagai anggota keluarga Suku Muritana mengatakan, saat itu, pihaknya bersepakat untuk melakukan pemasangan batas tanah yang merupakan warisan leluhur. Tanah tersebut berada di lokasi Desa Susu Wendewa, Mamboro.
Menurutnya, tanah yang mau digarap oleh keluarga Suku Muritana itu bukan tanah yang mempunyai riwayat sengketa. Sebab, tanah itu adalah murni milik keluarga suku Muritana. Kepemilikan tanah ini disebutnya dapat dibuktikan dengan beberapa peninggalan leluhur yang berada di lokasi tersebut
Sayangnya, ketika dalam perjalanan menuju lokasi, pihaknya malah mendapat penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka diserang dengan menggunakan batu ali-ali dan senjata tajam.
“Kami dari Kabisu Muritana mau pergi pasang pagar batas tanah kami. Begitu kami mau masuk lokasi, kami langsung disergap dengan batu, kita tidak tahu dari suku mana karena hampir kebanyakan orang dari luar(orang dari luar Mamboro), mereka maki mai kami, hanya beberapa orang Mamboro yang sempat kami kenal,” kata Yulius, Sabtu(10/10/2025).
Yulius merasa terkejut ketika mendapat serangan dari sekelompok orang yang tidak dikenalinya. Menurutnya, tanah yang hendak dipagari oleh Suku Muritana dipastikan bukan tanah bermasalah. Hal itu pun yang membuat pihak suku Muritana untuk memagari tapal batas tanah tersebut.
Meski mendapat serangan, Yulius mengaku bahwa pihaknya tidak melakukan perlawanan. Mereka menghindar untuk menyelamatkan diri. Ia menyebut kurang lebih puluhan orang tidak dikenal melakukan pengejaran dan menghujani batu ali-ali ke arah keluarga Suku Muritana.
“Jadi karena kami tidak ada niat untuk berperang, akhirnya kami memilih untuk mundur. Dengan serangan yang bertubi-tubi dan dengan jumlah yang banyak, kami lari sudah. Karena persiapan kami hanya linggis, parang kerja(parang ullu karet),” katanya lagi.
Atas penyerangan tersebut, Yulius menyebut satu orang dianiaya menggunakan senjata tajam. Korban tersebut mengalami luka robek pada lengan bagian kanan.
Selain itu, empat orang lainnya terkena lemparan batu hingga mengalami memar pada beberapa bagian tubuh.
“Satu orang yang kena potong dilengan bahian kanan, ada 7 jahitan dan ada 4 orang yang kena lempar batu. Saat itu juga mereka langsung bakar padang sehingga kami tidak tahu posisi itu yang kena potong. Setelah kami dapat tempat yang aman, kami cek-cek ternyata masih ada satu orang yang ketinggalan, kami pergi kembali untuk lihat, beliau sudah diangkat oleh Polisi bawa ke titik perkumpulan mereka(pihak lenyerang),” tutur Yulius.
Lebih lanjut, Yulius mengakui bahwa keluarga Suku Muritana tidak pernah mengundang pihak kepolisian untuk hadir saat pemasangan batas tanah.
Yulius kembali menegaskan bahwa tanah yang dipasang pagar bukan tanah bermasalah, sehingga tidak melibatkan kepolisian. Ia juga merasa heran, ketika kejadian, polisi tiba-tiba hadir.
Namun demikian, ia juga mengapresiasi kehadiran pihak kepolisian, sehingga konflik yang terjadi bisa diredam.
“Ya sepengetahuan kami polisi tahu sehingga pada saat kejadian polisi langsung ada. Sedangkan kegiatan kami, kami tidak pernah informasikan bahwa kami pergi pasang pagar, tapi pada saat kegiatan polisi langsung ada, langsung mengamankan ini yang luka, langsung bawa ke rumah sakit dan di Polsek Mamboro untuk mengambil keterangan,” ucapnya.
Kasus penyerangan ini sudah dilaporkan di Polres Sumba Barat. Yulius meminta supaya polisi dapat memberikan keadilan serta mengungkap dalang dari penyerangan tersebut. Ia menduga bahwa ada pihak lain yang sengaja mengundang massa dari luar Mamboro untuk menyerang keluarga Suku Muritana.
Hingga berita ini ditayangkan, Kasat Reskrim Polres Sumba Barat yang dihubungi wartawan media ini belum memberi konfirmasi.***
Tinggalkan Balasan