Pemuda yang Gantung Diri di Kodi SBD Pernah Gangguan Jiwa; Petani muda yang sukses panen padi 4 ton
TIMEXNTT – Seorang pemuda yang ditemukan gantung diri beberapa hari lalu hingga meninggal dunia dikabarkan punya riwayat gangguan jiwa.
Ia diketahui bernama Yonatan Mone Kaka warga Desa Rada Loko, Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, NTT.
Awalnya, Yonatan diketahui telah melakukan gantung diri disalah satu pondok yang berada dikebun ketika sejumlah anak yang mengembala kerbau melintas sekitar lokasi tersebut.
Setelah itu, mereka langsung pulang menuju kampung untuk memberitahukan dikeluarga korban, Yonatan.
Mendapat informasi dari pengembala kerbau, keluarga korban langsung bergegas menuju lokasi.
Kepala Desa Rada Loko, Donatus Japa Ndoda membenarkan peristiwan tersebut. Ia mengaku, Yonatan yang ditemukan gantung diri masih bagian dari keluarga.
Doantus menceritakan, Yonatan pernah memiliki riwayat gangguan jiwa sejak dari bangku SMA hingga sebagai mahasiswa.
Namun, Yonatan masih mampu menyelesaikan pendidikannya dan dipercayakan mengajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama(SMP) selama 2 tahun.
“Sejak dari SMA hingga kuliah, Yonatan memang memiliki gangguan kejiwaan. Setelah lulus, ia sempat mengajar di salah satu SMP selama dua tahun. Namun, kondisinya semakin memburuk dan ia tidak mampu menjalankan tugas mengajarnya dengan baik,” kata Donatus.
Kendati memiliki riwayat gangguan jiwa, Yonatan diberhentikan dari guru honorer. Setelah itu, Yonatan memilih menjadi seorang pemuda yang hendak menghabiskan masa hidupnya sebagai seorang petani.
Siapa menyangka, Yonatan yang berupaya bertahan hidup dengan kondisi kesehatannya itu, ia malah sukses dibidang pertanian.
Benar saja, Donatus menyebut Yonatan pernah menuai hasil panen padi hingga 4 ton beberapa tahun silam.
“Pernah menghasilkan empat ton padi pada tahun lalu,” sebut Donatus.
Dengan adanya peristiwa ini, Donatus tidak mau mencurigai pihak manapun atas meninggalnya anak saudaranya itu. Ia menegaskan kematian Yonatan murni gantung diri
“Saat saya tiba di lokasi, keluarga sudah berkumpul dan melihat Yonatan dalam keadaan tergantung dengan seutas kain yang ia sobek sendiri. Dan ini murni dia gantung diri,” ungkapnya penuh haru.
Selanjutnya, Donatus perintahkan Kepala Dusun untuk segera melaporkan kepada kepolisian setempat.
Tidak lama kemudian, aparat kepolisian tiba di tempat kejadian perkara (TKP).
Namun, karena pihak medis belum juga datang, keluarga yang panik meminta izin kepada polisi untuk menurunkan jenazah Yonatan dan membawanya ke Puskesmas Walandimu guna dilakukan visum.
Setelah proses visum selesai, jenazah Yonatan kemudian dibawa kembali ke rumah duka untuk disemayamkan sesuai adat dan budaya setempat.
Suasana duka menyelimuti keluarga dan warga sekitar yang mengenal Yonatan.
Pihak keluarga dengan penuh keikhlasan menerima kepergian Yonatan dan menegaskan bahwa mereka tidak mencurigai adanya unsur lain dalam kematiannya.
“Kami sebagai keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak ingin mencurigai siapapun,” tutup Kepala Desa Rada Loko.***
Tinggalkan Balasan