Penyuluh Pertanian Wewewa Barat Sosialisasi Kegiatan Demplot Hortikultura di Desa Wali Ate
TIMEXNTT – Penyuluh Pertanian Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya(SBD), Nusa Tenggara Timur(NTT) rutin melakukan sosialisasi kegiatan demplot hortikultura di Desa Wali Ate.
Setelah melakukan sosialisasi dibeberapa desa yang berada di Kecamatan Wewewa Barat, kali ini mereka melakukan hal yang sama di Desa Wali Ate.
Kegiatan temu teknis ini disebut bertujuan untuk memotivasi masyarakat Desa Wali Ate dalam melakukan kegiatan-kegiatan di kelompok tani. Termasuk kegiatan penanaman tanaman hortikultura.
Selain itu, juga bertujuan untuk membangun sinergitas antar pemerintah desa dan petani setempat.
Kordinator Penyuluh Kecamat Wewews Barat, Daniel Malo Umbu Pati, SP mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi di sejumlah desa yang berada di Kecamatan Wewewa Barat.
Ia menyebut pemerintah desa menerima dengan baik penyuluh pertanian yang hendak melakukan sosialisasi demplot hortikultura.
“Sampai saat ini kurang lebih sudah belasan desa di Kecamatan Wewewa Barat yang sudah kami sudah lakukan sosialisasi. Pemerintah desa menerima dan mendukung dengan baik,” kata Daniel ketika ditemui disela-sela kegiatan sosialisasi demplot hortikultura, Kamis(15/08/2024) di Desa Wali Ate.
Pemerintah desa dinilainya mendukung karena mempunyai program pemberdayaan masyarakat lewat kegiatan demplot hortikultura.
Daniel menjelaskan, kehadiran penyuluh pertanian hanya sebatas melakukan dampingan teknis.
Mereka hanya mendampingi mulai dari proses persemaian, pengolahan lahan, perawatan hingga masa panen dan pemasaran. Termasuk sosialisasi yang sedang dilakukan.
Sehingga intervensi anggaran hanya dilakukan oleh pemerintah desa setempat guna kelancaran program demplot hortikultura tersebut.
“Tugas kami hanya sebatas mendampingi saja. Tidak ada bantuan dalam bentuk apapun. Kami hanya damoingi bagaimana cara menanam, benih apa yang dipilih. Kami mendampingi dari persemaian, pengolahan lahan, perawatan sampai panen dan pemasaran itu saja. Ini sebenarnya program desa karena desa yang anggarkan,” jelas Daniel.
Sejumlah petani yang berada disetiap desa menanam hortikultura dengan bervariasi. Ada yang memilih menanam tomat, cabe, kol, pitsai, kankung, wortel dan beberapa jenis sayur-sayuran lainnya.
Tanaman hortikultura yang direkomendasikan itu dinilai lebih layak ditanam oleh petani di wilayah Kecamatan Wewewa Barat.
“Beberapa desa yang kami dampingi sudah berhasil. Desa Sangu Ate tanaman sudah bunga, di Desa Waimangura juga sudah bunga,” sebut Daniel.
Kendati demikian, terdapat beberapa petani horti lainnya meminta menanam tanaman lain seperti kentang. Namun tidak bisa direkomendasikan karena kondisi iklim di Kecamatan Wewewa Barat yang tidak mendukung.
Selain itu, ada juga ada yang menanam bawang. Diantaranya, beberapa kelompok tani di Desa Kalaki Kambe dan Desa Kabali Dana.
Sedangkan untuk luas lahan, Daniel menyebut akan disesuaikan dengan permintaan petani.
“Kami sesuaikan lahan yang disediakan oleh masyarakat. Kalau banyak ya kami suruh tanam banyak,” tuturnya.
Daniel mengakui bahwa semangat petani di Wewewa Barat dalam menanam horti sangatlah tinggi. Dengan semangat itu, Daniel memimpikan supaya Kecamatan Wewewa Barat menjad sentra hortikultura.
Akan tetapi, hal itu bisa terwujud apabilai mendapat dukungan dari berbagai pihak. Termasuk pemerintah desa.
Selama proses pendampingan penyuluh pertanian, Daniel menambahkan, petani hortikulturan mengeluhkan soal kekurangan air. Pasalnya, air merupakan kebutuhan utama untuk memanen hasil yang memuaskan.
“Tetapi dengan adanya dampingan dalam memotivasi mereka(petani-red), mereka tetap semangat walau banyak keterbatasan. Misalnya, di Desa Kabali Dana itu rata-rata beli air tangki. Tapi tetap semangat dan sudah merasakan hasilnya,” tambahnya.
Sebagai informasi tambahan, penyuluh pertanian Kecamatan Wewewa Barat akan melanjutkan sosialisasi demplot hortikultura setelah peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.***
Tinggalkan Balasan