Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Ratu Wulla Sebagai Perempuan Pertama Calon Bupati SBD: Lawan Diskriminasi Terhadap Perempuan 

Isu tentang jenis kelamin dalam memimpin masih saja bergulir dipermukaan publik. Banyak yang menilai kakau perempuan itu lemah dan tidak mungkin memimpin laki-laki.

TIMEXNTT – Sejarah mencatat, Ratu Ngadu Bonu Wulla merupakan perempuan pertama yang mencalonkan diri sebagai calon Bupati Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Sebelum mencalonkan diri sebagai calon Bupati SBD, Ratu Wulla juga menjadi perempuan pertama yang mewakili Pulau Sumba yang terdiri dari 4 kabupaten sebagai anggota DPR RI.

Untuk diketahui, Kabupaten Sumba Barat Daya telah melakukan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati sejak tahun 2008 silam.

Pada tahun 2024 ini, Pilkada SBD menelurkan satu calon Bupati perempuan. Adalah Ratu Ngadu Bonu Wulla atau dalam sejarah Sumba Barat Daya satu-satunya perempuan yang berhasil menjadi calon Bupati periode 2024 – 2029.

Tentunya, kehadiran Ratu Ngadu Bonu Wulla membawa warna tersendiri dalam perhelatan Pilkada SBD.

Kemunculannya dalam kontestasi politik tersebut bukan sekedar ajang perebutan kekuasaan, melainkan sebuah langkah penting dalam meneruskan semangat emansipasi yang telah diwariskan oleh RA Kartini.

Ratu Ngadu Bonu Wulla yang kerap disapa Ratu Wulla itu didampingi oleh Dominikus Alphawan Rangga Kaka yang juga DPRD Provinsi NTT.

Mereka berdua harus memilih mundur dari legislatif dengan niat maju sebagai calon bupati/wakil bupati untuk menuntaskan pembangunan di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Majunya sosok perempuan yang rutin menemui masyarakat hingga pelosok desa itu terus mendapat dukungan.

Baca Juga  Masa Jabatan Segera Berakhir, Bupati SBD Pamitan Hingga Minta Jaga Suasana Pilkada Tetap Kondusif

Terbukti, berdasrkan beberapa hasil survei dari lembaga survei nasional, Ratu Wulla dicatat sebagai calon Bupati SBD yang menempati posisi teratas yang mendapatkan elektabilitas tertinggi.

Bukan hanya itu, Ratu Wulla pun menjadi calon bupati yang disukai oleh masyarakat Sumba Barat Daya hingga kembali menempati posisi pertama. Ia unggul dari beberapa calon lainnya.

LAWAN DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN

Isu tentang jenis kelamin dalam memimpin masih saja bergulir dipermukaan publik. Banyak yang menilai kakau perempuan itu lemah dan tidak mungkin memimpin laki-laki.

Sebab, pikiran itu terbawa dari dalam kehidupan berumah tangga. Yang mana perempuan selalu ditempatkan pada bagian belakang bukan sebagai kepala keluarga.

Perlu diketahui bahwa kesetaraan gender dalam mengikuti pilkada juga sebagai salah satu jalan dalam melakukan pengabdian pada ruang publik.

Pengabdian itu tentunya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh kaum perempuan, tanpa melupakan kodratnya sebagai istri atau ibu dalam ruang domestik rumah tangga.

Pada prinsipnya, negara telah memberikan pijakan yuridis normatif berupa aturan 30 persen kuota perempuan, serta kultur psikologis sosial masyarakat yang semakin terbuka dan akomodatif terhadap keterlibatan perempuan dalam dunia politik.

Saat ini, kebanyakan masyarakat memandang dalam diri perempuan sangat emosional, lemah, labil, dan sebagainya.

Baca Juga  BREAKING NEWS! Masyarakat Kota Tambolaka Menemukan Bayi Dalam Dus Aqua

Laki-laki, di sisi lain, menyadari bahwa mereka sangat kuat, logis, jantan, dan perkasa dan juga tidak mudah menangis.

Sifat dan karakteristik yang dapat dipertukarkan adalah sifat dan kualitas yang dapat berubah dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain, dan bahkan mungkin terjadi dalam kelas sosial yang berbeda.

Seharusnya, dalam memilih pemimpin tidak harus memandang jenis kelamin ataupun suku ras dan lain sebagainya.

Dari perspektif kesetaraan gender diyakini bahwa tidak menempatkan hak dan kewajiban yang ada pada tubuh manusia dalam posisi yang berlawanan, hak dan kewajiban tersebut dinilai selalu sama bagi dua jenis kelamin yang berbeda.

Tentunya pula, wajib menjunjung tinggi konsep keadilan untuk semua, tanpa memandang jenis kelamin.

Untuk itu, segala bentuk stigma buruk yang ditujukan kepada kaum perempuan akhirnya dapat terbantahkan.

Hal itu terbantahkan dengan kehadiran Ratu Wulla. Sosok perempuan hebat yang tiada henti dalam menunjukan kemampuan perempuan untuk memimpin.

Sehingga tidak lagi mengahntui segala bentuk niat baik perempuan dalam berproses dalam segala bidang termasuk dalam dunia politik.

Demikian catatan redaksi ini. Perlu digarisbawahi bahwa mungkin saja mempunyai pandangan yang berbeda. Untuk itu diharapkan supaya menarik satu kesimpulan yang mengedukasi pengetahuan kita bersama. Semoga bermanfaat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!