Ratusan Data Siluman Ditemukan di SDK Ilhaloko Hingga Pending Pencairan Dana BOS: Bukan Dipersulit
TIMEXNTT – Fakta terbaru terungkap dari keluarga korban ketika menyikapi berbagai framing yang dinilai dalam membenarkan tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak Kepala Sekolah Dasar Katolik(SDK) lhaloko, Emanuel Karsianto Sukardana.
Berbagai framing dimedia sosial ini membuat keluarga korban harus angkat bicara dalam mengungkap fakta-fakta dari pengakuan korban maupun dari mantan atasan korban tersebut.
Dalam konferensi pers yang digelar oleh keluarga korban yang diwakili oleh Benediktus Dalupe mengatakan, dirinya sudah melakukan penelusuran kepada korban maupun kepada mantan Kepala Bidang SD.
Penelusuran ini dilakukan demi menjawab spekulasi publik yang seolah-olah menilai korban persulit pelaku dalam mengurus proses pencairan dana BOS. Bahkan, tidak sedikit yang membenarkan tindakan kriminal korban.
Berdasarkan pengakuan korban, Benediktus menjelaskan, korban menjalankan tugas sebagai pelaksana teknis untuk pending pencairan Dana BOS atas perintah atasannya.
“Dia(korban) sebagai pelaksana teknis dalam urus ini, atasannya dia adalah Kabid SD. Tadi pagi saya tanya dia, bahwa atas semua dilakukan itu adalah arahan atau perintah dari atasan,” kata Benediktus, Selasa(17/06/2025).
Sementara, Dana BOS dipending karena ditemukan sejumlah data siluman yang dimasukan oleh pelaku.
Temuan itupun diperkuat juga oleh mantan Kabid SD, Aphin Nilan. Menurutnya, kata Benediktus, Kabid SD membenarkan bahwa benar ada data-data siluman yang ditemukan hasil asistensi dan verifikasi.
Dari temuan itu, terdapat 300 siswa yang bermasalah dan tidak sesuai dengan data Dapodik Dinas. Sebab, dalam Dapodik Djnas hanya 110 siswa yang terdaftar di SDK Ilhaloko Mangganipi, Kecamatan Kodi Utara.
“Jadi, soal sekolah Ilhaloko, memang kepengurusan dana BOS nya itu dipending oleh mantan Kabid SD dari bulan Januari. Menurut Pak Aphin, karena sekolah ini bermasalah, pertama tidak layak ikut ujian karena gedung bermasalah, data-data bermalasalah. 300 lebih data yang dimasukan Pak Aphin bilang tadi pagi itu, setelah di asistensi, diverifikasi itu hanya 110 yang memenuhi syarat,” kata Benediktus sesuai hasil penelusurannya di korban dan mantan Kabid SD.
Lebih lanjut, Benediktus menuturkan, korban kemudian meminta pelaku untuk perbaiki data-data tersebut supaya bisa segera mencairkan Dana BOS tersebut.
Sayangnya, ketika diminta untuk perbaiki, pelaku justru menganggap pihak Dinas Pendidikan telah mempersulit dirinya dalam proses ini.
“Akhirnya, karena terus disuruh perbaiki, berjung kemarin itu,” ujar Benediktus.
Pasca insiden itu, Benediktus menanyakan kepada korban soal proses tersebut. Dia menanyakan soal perbedaan data yang ditemukan oleh korban.
Menurut korban, kata Benediktus, sesuai data Dapodik Dinas hanya 110 siswa yang tercover. Sedangkan, data yang dibawa oleh pelaku seusai diminta perbaiki adalah 111 siswa.
Meski menemukan selisih data tersebut, korban masih bersedia membantu karena menganggap bahwa pada saat pengiputan belum disinkron.
Saat itu, Korban masih berinisiatif membantu untuk melakukan proses lebih lanjut guna segera mencairkan Dana BOS tersebut.
“Pelaku yang mengaku sebagai operator datang untuk meminta rekomendasi untuk di ACC menunjukan data yang dilaptop dia(pelaku) datanya 111. Pak Alo(korban) sebagai pelaksana teknis menunjukan juga, ini 110 data Dapodik Dinas, terus beliau(pelaku) bilang apakah saya yang buta ko? Terus Pak Alo juga jawab, apakah saya yang buta ko? Dengan menunjukan juga data. Okelah Pak Alo bilang, mungkin waktu input itu data belum sinkron. Dan akan dibantu begitu untuk proses lebih lanjut,” kata Benediktus dalam menirukan kembali pernyataan korban ketika berbaring di RSUD Reda Bolo.***
Tinggalkan Balasan