Siswa SBD NTT Keracunan MBG Seharga Rp8 ribu Satu Kotak: Masak Jam 01 Dini Hari, Satu Hari Telan Anggaran Rp20 Juta Lebih
TIMEXNTT – Puluhan siswa di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di SMK Don Bosco, SMA Negeri 1 Kota dan SMK Negeri 2 Tambolaka.
Puluhan siswa mengalami keracunan pada saat mengkonsumsi makanan yang disediakan oleh Dapur Sehat Omba Lunda yang bermitra dengan Yayasan Ronita Peduli Sosial.
Makanan tersebut merupakan bantuan Pemerintah Pusat melalui program Makan Begizi Gratis(MBG).
Ditemui, Kepala SPPG Dapur Sehat Omba Lunda, Christiani Candarditia Rezki Lete Boro mengatakan, dalam satu hari pihaknya melayani 11 sekolah yang terdiri dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, termasuk Ibu Hamil, menyusui dan Balita. Sedangkan, proses suplly MBG ini sudah berlangsung selama 7 bulan.
“Satu hari kami distribusi makanan terhadap 3.145 orang,” kata Christian, ketika ditemui Kamis(24/07/2025).
Menurutnya, kejadian ini baru pertama kali dialami sejak 6 bulan terakhir ini. Meski mendapat sorotan, Christian tetap bertanggung jawab terhadap siswa-siswi yang kercanunan.
Berdasarkan data yang diperolehnya, ada 65 siswa yang tercatat keracunan ketika mengkonsumsi makanan yang didistribusi oleh Dapur Sehat Omba Lunda.
Sebagai wujud tanggung jawab, Christian menyebut dirinya sebagai jaminan bagi siswa-siswi yang sedang ditangani pihak rumah sakit jika membutuhkan biaya perawatan. Hal ini juga diakuinya telah konfirmasi dengan pihak sekolah.
“Inikan anak-anak baru selesai konsumi kita punya makanan, jadi ketika itu terjadi, bukti tanggung jawab kita, ketika sekolah menghubungi kami kemarin itu, saya langsung ke rumah sakit karitas,” katanya lagi.
Lebih lanjut, Christian menuturkan, bahan baku yang disediakan dalam proses ini merupakan bahan baku lokal. Selama proses memasak disebutnya dilakukan sesuai SOP yang yang berlaku di Dapur Sehat Omba Lunda.
Sedangkan, menu makanan yang disantap siswa-siswi kemarin adalah ikan balik tepung(ikan cakalan dan tuna), tempe, sup(wortel, kentang, kol), dan buah jeruk.
Namun, ia juga belum memastikan bahwa siswa-siswi yang keracunan dikarenakan oleh makanan yang disedikannya. Sebab, sampel dari makanan tersebut sementara dikirim ke LAB.
“Dari Dinas Kesehatan, Reskrim langsung turun kemarin ambil sampelnya, setelah itu langsung dibawa. Malamnya itu, dibawa kembali kami punya sampel. Nantinya akan ditindaklanjuti oleh BPOM untuk masuk ke LAB,” tambahnya lagi.
Ia menjelaskan, proses memasak dilakukan mulai pukul 01.00 dinihari dengan pengawasan yang ketat. Sedangkan, distribusi ke sekolah dilakukan pukul 07.30 pagi.
Selanjutnya, setelah sampai di sekolah, pihaknya memberi tanggung jawab kepada pihak sekolah untuk memberikan kepada siswa.
Sementara satuan harga dari makanan yang didistribusikan Rp8.000-Rp10.000 per siswa. Dalam satu hari, anggaran yang dikeluarkan adalah Rp20-an juta.
“Masak sekitar jam 1 atau jam 2 dini hari. kita distribusi jam 07,30 pagi. Sedangkan kosumsinya tergantung dari pihak sekolah. Karena kita tidak mau mengganggu proses KBM, sehingga kita berikan kebebasan sekolah untuk jam berapa untuk makan,” tuturnya.
Dengan kejadian ini, supply makanan terhadap 11 sekolah dari Dapur Sehat Omba Lunda diberhentikan sementara hingga mendapat hasil LAB.***
Tinggalkan Balasan