Storintt

Dari NTT Untuk Indonesia

Sudah 2 Bulan Lebih, Hasil LAB Dugaan Keracunan MBG di Dapur Sehat Omba Lunda SBD Belum Keluar

Sudah 2 bulan lebih, hasil LAB dari sampel menu makanan yang diduga menyebabkan keracunan terhadap 77 siswa SMA/SMK di Sumba Barat Daya belum kunjung keluar.(Dokpri Rian Marviriks)

TIMEXNTT – Sudah 2 bulan lebih, hasil LAB dari sampel menu makanan yang diduga menyebabkan keracunan terhadap 77 siswa SMA/SMK di Sumba Barat Daya belum kunjung keluar.

Untuk diketahui, dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis(MBG) yang dialami oleh siswa yang berasal dari SMK Negeri 1 Kota Tambolaka 53 siswa, SMK Don Bosco 17 orang dan SMK Negeri 2 Kota Tambolaka 7 orang terjadi sejak tanggal 23 Juli 2025.

Sementara, penyedia makanan tersebut adalah SPPG Dapur Sehat Omba Lunda Tambolaka yang berada dibawah naungan Yayasan Ronita Peduli Sosial.

Sayangnya, belum lama kemudian, SPPG Dapur Sehat Omba Lunda kembali beroperasi dalam melakukan pelayanan meski hasil LAB belum diumumkan secara terbuka kepermukaan publik.

Baca Juga  Bawaslu SBD Respon Soal Rencana Gugatan Paket Rakyat ke DKPP dan Mahkamah Konstitusi

Dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, Yulianus Kaleka mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima hasil apa pun dari POM Waingapu yang melakukan uji LAB terhadap sampel menu makanan yang dikirim.

“MBG ini kita belum dapat laporan resmi dari POM Waingapu, kalau sudah dapat itu saya akan sampaikan di Ibu Bupati supaya menyampaikan secara resmi,” kata Yulianus ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin(13/10/2025).

Lebih lanjut, ditanya soal jadwal keluarnya hasil LAB dari sampel menu MBG yang dikirim ke POM Waingapu, Yulianus mengaku tidak mengetahui secara persis prosedurnya. Namun, ia menyebut ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan lambatnya hasil LAB tersebut.

Baca Juga  TIDAK MUDAH! Berikut Tantangan yang Wajib Diselesaikan Oleh Kapus di SBD yang Dilantik

Menurutnya, lambatnya hasil LAB tergantung sampel yang dikirim. Jika sudah rusak, sebutnya lagi, maka tidak bisa memberikan hasil apa pun atau sampelnya tidak lagi memenuhi syarat.

“Hasilnya bisa cepat tergantung juga terhadap sampel yang diperiksa, apakah bagus atau tidak. Yang kedua bisa juga tidak diperiksa karena sampelnya rusak, bisa saja. Apakah pemeriksaannya butuh lebih lanjut lagi atau bagaimana, tapi jelasnya itu tugas POM,” kata Yulianus.

“Tugas kami(Dinas Kesehatan) berangkat dari persoalan yang ada, kita lakukan pembenahan-pembenahan atau evaluasi supaya tidak terjadi lagi,” katanya lagi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!