Survei Indikator NTT; Ansy Jane Berpeluang Menang, Siaga Tempel Ketat Melki Johni
TIMEXNTT – Lembaga survei Indikator merilis hasil survei Pilgub NTT pasca penetapan KPU.
Lembaga survei indikator telah melakukan survei di Provinsi NTT pada 28 September sampai 5 Oktober 2024.
Diketahui, Nusa Tenggara Timur adalah salah satu wilayah yang mengelar Pilkada 2024 ini, secara serentak bersama dengan 36 provinsi lain.
KPU NTT saat ini telah menetapkan tiga pasangan calon yang akan berkontestasi, yaitu Yohanis Fransiskus Lema – Jane Natalia Suryanto, Emanuel Melkiades Laka Lena – Johni Asadoma, dan Simon Petrus Kamlasi – Adrianus Garu.
Pasangan Yohanis-Jane didukung tiga partai yakni PDI Perjuangan, Hanura, dan PBB.
Kemudian Melki-Johni didukung 11 partai yaitu Golkar, Gerindra, PSI, PPP, Perindo, Garuda, Gelora, PAN, Demokrat, PKN, dan Prima.
Sementara Simon-Adrianus didukung tiga partai yaitu NasDem, PKB, dan PKS.
Hasil survei dapat memberi gambaran tentang peta dukungan pada pasangan calon dan faktor yang mempengaruhi dukungan pada saat survei dilakukan.
Temuan survei ini dapat digunakan sebagai rujukan dalam mengambil Keputusan terkait pilkada di NTT.
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Sedangkan, penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling.
Dalam survei ini jumlah sampel basis sebanyak 1000 orang berasal dari seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdistribusi secara proporsional.
Kemudian dilakukan oversample menjadi masing-masing 400 responden di empat Kabupaten/Kota, yakni di Kota Kupang, Kupang, Sumba Timur, dan Timur Tengah Selatan, kemudian di wilayah Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggara Barat) dilakukan penambahan 400 responden.
Sehingga total sample sebanyak 2,720 responden. Dengan asumsi metode stratified random sampling, ukuran sampel tersebut memiliki toleransi kesalahan (margin of error-MoE) sekitar ±2.6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Analisis gabungan diterapkan pembobotan sehingga sampel dari seluruh Kabupaten/Kota terdistribusi secara proporsional di tingkat Provinsi.
Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.
Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.
Lalu bagaimana temuan hasil survei Indikator pasca penetapan KPU NTT terhadap 3 pasangan tersebut?
Jika pemilihan diadakan ketika survei dilakukan, secara spontan Yohanis Fransiskus Lema paling banyak disebut 20,4 persen.
Kemudian Emanuel Melkiades Laka Lena 16.4 persen dan Simon Petrus Kamlasi 14.4 persen. Nama lain jauh lebih rendah. Belum menentukan pilihan 39.2 persen.
Pada simulasi 3 pasangan calon, Yohanis Fransiskus Lema dan Jane Natalia Suryanto unggul signifikan dengan dukungan 36.6 persen diikuti pasangan Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma yang mendapat dukungan sebesar 27.4 persen.
Selanjutnya, pasangan Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu dengan dukungan 23.9 persen.
Yang memutuskan tidak akan memilih (Golput) ada sekitar 0.3 persen, sisanya merupakan massa mengambang sekitar 11.8 persen.
Popularitas merupakan hal mendasar dalam politik elektoral, tidak mungkin dipilih jika tidak dikenal.
Populer juga belum tentu dipilih jika ada calon lain yang lebih disukai. Oleh karena itu populer saja tidak cukup, citra personal calon juga harus positif.
Saat ini tingkat popularitas Emanuel Melkiades Laka Lena 55.2 persen, kemudian Yohanis Fransiskus Lema 51.5 persen.
Simon Petrus Kamlasi 34.2 persen, Jane Natalia Suryanto 34 persen, Johni Asadoma 27.5 persen dan Adrianus Garu 22.5 persen.
Untuk sementara ini, pasangan Yohanis Fransiskus Lema dan Jane Natalia Suryanto unggul signifikan dari para pesaingnya dan paling berpeluang menang dalam Pilkada NTT November 2024 mendatang.
Namun demikian, jarak elektoral relatif sempit meski waktu tersisa kurang dari dua bulan.
Dinamika elektoral pada pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT ke depan masih sangat berpeluang untuk berubah, terutama karena tingkat kedikenalan calon yang belum optimal.
Kandidat yang berhasil menjangkau paling banyak pemilih dalam sisa waktu ke depanlah yang paling berpotensi memenangkan pilkada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Dan bukan hanya sekedar masif, kerja sosialisasi ke depan juga harus efektif dan sangat berkualitas.***
Tinggalkan Balasan