Tahapan Pilkada SBD, Pewarta SBD Sepakati Hal ini
TIMEXNTT – Sejumlah kuli tintah yang bergabung dalam komunitas Pewarta SBD berkomitmen mewujudkan Pilkada pada bulan November yang damai dan sejuk.
Mereka akan mengupayakan menjaga profesionalisme dalam menayangkan segala bentuk informasi yang berkaitan dengan proses penyelenggaraan Pilkada SBD.
Selain itu, Pewarta SBD juga berkomitmen untuk menghindari publikasi berita yang bersifat bohong, tendensius, menyesatkan atau bersifat sensasional.
Hal itupun dipertegas oleh ketua Pewarta SBD, Fredi Ladi dalam ruang diskusi bersama sejumlah wartawan lainnya, Kamis(25/07/2024).
“Kita pastikan segala pemberitaan yang berkaitan dengan Pilkada dan Pilgub wajib memberi informasi yang mengedukasi masyarakat,” tegasnya.
Wartawan TVRI NTT itu menjelaskan, pekerja jurnalistik wajib mentaati kode etik jurnalistik. Ia meminta supaya wartawan dapat menjaga keberagamaan daerah dalam karya-karya jurnalistik.
“Kita juga perlu perhatikan kode etik. Apa yang sudah kita bangun dan sepakati mari kita bersama-sama menjaga semuanya itu,” pintahnya.
Senada dengan Humas Pewarta SBD, Frengki Keban. Ia menegaskan tentang kerja-kerja jurnalis yang mengedepankan penyiaran informasi bersifat mengedukasi masyarakat.
“Jadi rekan-rekan, kita perlu memberi informasi yang baik untuk membuat masyarakat tidak terkontaminasi dengan hal negatif,” ucapnya.
Pada tahap Pilkada SBD yang sedang berjalan ini, Frengki Keban yang juga wartawan victorynews.id itu mengingatkan semua anggota komunitas Pewarta SBD untuk lebih mawas diri dalam menyiarkan informasi tentang proses pemilihan kepala daerah.
Bahkan, ia mengakui bahwa insan pers juga mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihan tanpa intervensi dari manapun.
Untuk itu, bagi dia, beda pilihan bukan berarti membuat karya jurnalistik yang mengadu domba yang akan berdampak pada konflik sosial.
“Tulisan kita kadang-kadang menentukan juga situasi pilkada. Apakah kita memilih supaya kondusif atau sebaliknya. Semua ada pada kita. Tentunya kita punya pilihan yang berbeda tetapi bukan berarti kita menulis hal yang sifatnya provokatif,” ungkapnya.***
Tinggalkan Balasan