Temuan Dinas Pendidikan SBD di Lapangan, SDK Ilhaloko Manganipi Hanya Punya 5 Siswa Kelas I, Apin Nilan: Dapat Salur BOS 110 Siswa
TIMEXNTT – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat Daya menemukan sejumlah data siswa yang diduga data siluman di SDK Ilhaloko Mangganipi, Kecamatan Kodi Utara.
Temuan ini berdasarkan hasil verifikasi lapangan yang dilakukan oleh eks Kepala Bidang Sekolah Dasar, Apin Nilan.
Pada bulan Januari 2025, hasil penelusuran yang dilakukan, Apin Nilan menemukan data siswa sebanyak 370. Temuan inipun berbeda dengan hasil cut off yang dilakukan pada 31 Agustus 2024.
Saat itu, siswa yang valid dan tercover dalam Dapodik yang mendapat salur dana Bantuan Operasional Sekolah(BOS) untuk anggaran tahun 2025 adalah 110 siswa bukan 370.
“Ketika cut off di 30 Agustus 2024, siswa valid menurut Dapodik yang layak mendapatkan Dana BOS itu sejumlah 110 itu. Jadi, salur dana BOS untuk 2025 ini itu berdasarkan data per 31 Agustus 2024,” kata eks Kabid SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan SBD, Apin Nilan, Selasa(24/06/2025).
Dengan temuan ini, Apin Nilan yang saat itu masih menjabat sebagai Kabid SD meminta Kepala Sekolah Ilhaloko untuk menghadap dengan membawa daftar hadir siswa dan guru-guru untuk menyandingkan selisih data-data tersebut.
Dari daftar yang dibawa oleh Kepala Sekolah, ditemukan lagi selisih siswa. Sesuai Dapodik, ada 27 orang kelas I, sedangkan dalam daftar hadir ada 57 orang. Khusus kelas I, Apin Nilan menemukan selisih sebanyak 30 siswa.
Apin Nilan kembali melakukan verifikasi faktual dengan mendatangi SDK Ilhaloko untuk melihat secara langsung siswa-siswi tersebut.
Mirisnya, ketika mendatangi sekolah itu, justru ditemukan jumlah siswa yang tidak sesuai dengan daftar hadir.
Bukan hanya itu, gedung sekolah yang dibangun darurat juga hanya terdapat 5 ruang belajar. Kelas I dan II satu ruang kelas, sedangkan kelas V dan VI juga satu kelas.
“Sementara saya turun tanggal 07 Februari saya temukan kelas I hanya 5 orang, kelas II, 10 orang, kelas III, 16 orang, kelas IV 9 orang, kelas V 14 orang, kelas VI 1 orang,” katanya lagi.
“Ruang kelas yang tersedia di sana hanya 5 ruang darurat. Saya tanya, kalau begini ruang kelas pakai di mana? Dorang bilang pakai tahan Kantor Desa,” tambahnya lagi.
Dengan catatan itu, Apin Nilan meminta Kepala Sekolah untuk melakukan perbaikan dan mencocokan kembali data sesuai hasil cut off pada bulan Agustus 2024.
Setelah diminta perbaiki, pada tanggal 10 Februari 2025, Apin Nilan kembali membuka Dapodik dan menemukan 272 siswa. Namun, perbaikan tersebut belum sinkron dengan hasil cut off.
Pihak sekolah tetap diminta untuk melakukan upaya perbaikan guna mencairkan dana BOS anggaran tahun 2025.
Menurut Apin Nilan, jika pihak sekolah tetap pertahankan 1 siswa yang selisih sesuai yang terjadi saat ini, mereka harus mampu menjelaskan keberadaan siswa tersebut.
Sebenarnya, masih kata Apin Nilan, jika merujuk pada mutasi siswa kelas VI di SDN Kedu Wella, maka data siswa di SDK Ilhaloko bukan lagi 110, melainkan harus dikurangi lagi hingga 13 siswa.
Sebab, dari 14 siswa kelas VI, yang tercover dalam Dapodik untuk bisa mengikuti ujian hanya 13 siswa. Sementara 1 siswa tidak diketahui keberadaannya.
“Waktu rapat kepala sekolah itukan saya sudah umumkan bahwa 12 sekolah tidak layak mengikuti ujian sendiri, jadi di datanya SDK Ilhaloko itu ada 14 siswa kelas VI, jadi yang valid yang bisa kita mutasi ke SD terdekat ke SDN Kedu Wella, itu hanya 13 siswa. Yang satu siswa kelas VI ini yang kita tidak tahu. Bisa ada, bisa tidak ada. Jadi kalau bertahan bukan hanya selisih 1 dari 110 itu, harus kurang 13 lagi itu,” tutur Apin Nilan.***
Tinggalkan Balasan